BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Suasana berbeda tampak di ruang kerja Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah pada Senin (8/6/2026). Ruangan yang biasanya digunakan untuk aktivitas pemerintahan itu menjadi lokasi diskusi bertajuk Membaca Bojonegoro dalam Angka yang menghadirkan Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta kalangan jurnalis.
Forum tersebut membahas berbagai program pembangunan yang memberikan dampak terhadap sejumlah sektor ekonomi sekaligus mengkaji potensi lapangan usaha yang berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bojonegoro.
Dalam pemaparannya, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan I 2026 secara tahunan (year on year/y-on-y) tercatat tumbuh 0,02 persen. Capaian tersebut dinilai masih menunjukkan tren positif dibandingkan tahun 2023 yang sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.
Menurutnya, sektor pertambangan dan penggalian yang selama ini menjadi kontributor terbesar perekonomian Bojonegoro masih mengalami tekanan akibat penurunan lifting minyak dan gas bumi (migas). Kondisi tersebut membuat pertumbuhan sektor pertambangan tercatat minus 8,78 persen secara tahunan.
Di sisi lain, sektor pertanian justru menunjukkan performa yang kuat dengan pertumbuhan mencapai 11,38 persen. Pertumbuhan tersebut menjadi faktor penting yang menjaga ekonomi daerah tetap tumbuh positif meski sektor migas mengalami penurunan.
“Sedangkan, jika berbicara keterbandingan wilayah Gerbangkertosusila Plus atau G+ di sembilan wilayah, Kabupaten Bojonegoro penyumbang perekonomian terbesar ke-9 kontribusi sebesar 3,20 terhadap Jawa Timur,” jelasnya.
Nurul menambahkan, sektor pertanian, kesehatan, dan pendidikan masih menjadi sektor prioritas yang terus didorong pemerintah daerah karena terbukti memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nonmigas.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan PDRB Bojonegoro dipengaruhi oleh berbagai lapangan usaha, mulai dari pertambangan, pertanian, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, informasi dan komunikasi, hingga sektor akomodasi dan makan minum.
Selain itu, sektor jasa seperti keuangan, real estate, pendidikan, kesehatan, serta meningkatnya aktivitas rekreasi dan pariwisata juga turut memberikan sumbangan terhadap perekonomian daerah. Sementara itu, beberapa sektor seperti pengadaan air, listrik, dan gas masih memerlukan stimulus untuk memperkuat pertumbuhannya.
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro Syawaluddin Siregar menegaskan bahwa secara keseluruhan perekonomian Bojonegoro masih tumbuh positif berkat kinerja sektor pertanian.
"Meski lifting minyak turun sehingga pertumbuhan sektor pertambangan -8,78. Ekonomi kita 46 persen ditopang oleh pertambangan. Ketika pertanian tumbuh tinggi itulah yang mendorong pertumbuhan ekonomi tidak sampai minus," tandasnya.
Ia menjelaskan, kontraksi ekonomi yang terjadi pada 2023 tidak terlepas dari kondisi sektor migas yang saat itu belum menunjukkan kinerja sebaik sekarang. Namun pada 2026, pertumbuhan sektor pertanian yang signifikan menjadi peluang baru bagi perekonomian daerah.
Menurut Syawaluddin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bojonegoro tetap mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan.
"Harusnya pertumbuhan ekonomi bergerak inklusif. Artinya semua sektor terbuka bagi semua orang atau merata. Seperti sektor pertanian yang masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bojonegoro. Tidak seperti sektor pertambangan," imbuhnya.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
