Produksi Padi Bojonegoro Ditarget Lampaui Lamongan Tertinggi di Jatim pada 2027

Arik T.P
Bupati dan Wabup Bojonegoro saat panen raya di Desa Sidodadi, Kapas. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menargetkan produksi pertanian daerahnya terus meningkat, bahkan mampu melampaui sejumlah kabupaten yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi padi nasional.

“Kita target tahun depan mengungguli Kabupaten Lamongan yang sebelumnya kita sudah mengungguli Kabupaten Ngawi. Kemudian tahun 2029 diatas Kabupaten Indramayu yang menjadi salah satu penghasil padi tertinggi di Indonesia,” ujar Bupati Wahono.

Hal tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri Gumrigah Tani Festival (Gutanbo Fest) 2026. Kegiatan itu dilakukan dalam upaya memperkuat upaya peningkatan produksi pertanian.

Kegiatan yang digelar di Alun-alun Bojonegoro itu dirangkai dengan pelantikan 28 pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2026–2031 serta penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah menekankan penguatan ketersediaan air, pupuk, dan teknologi pertanian. Langkah yang disiapkan meliputi pembangunan embung, optimalisasi jaringan irigasi, serta pengembangan teknologi melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

Pemkab Bojonegoro juga menargetkan pencetakan sawah baru sedikitnya 300 hektare dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Upaya tersebut direncanakan melalui kerja sama dengan pemilik lahan dan pihak terkait, termasuk Perhutani.

Gutanbo Fest Perluas Promosi Potensi Pertanian

Gutanbo Fest 2026 menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan petani, pemerintah, dan pemangku kepentingan sektor pertanian. Festival ini sekaligus memperluas promosi potensi pertanian Bojonegoro yang menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan Gutanbo Fest merupakan pengembangan dari kegiatan Fun Farmers Day (FFD) yang telah dilaksanakan sejak 2022 di tingkat desa dan kecamatan.

Pada 2026, kegiatan tersebut diperluas ke tingkat kabupaten dengan memanfaatkan Alun-alun Bojonegoro sebagai ruang interaksi sekaligus promosi potensi pertanian daerah.

“Pada 2026 ini, kegiatan dikembangkan dalam skala kabupaten di alun-alun dengan harapan tujuan untuk memperluas ruang interaksi dan promosi potensi sektor pertanian Bojonegoro,” terangnya.

Zaenal menyebut sektor pertanian memiliki peran besar dalam perekonomian Bojonegoro. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, terdapat 269.267 rumah tangga usaha pertanian di daerah tersebut.

“Tagline Gumregah Tani Bojonegoro Festival 2026 yaitu Petani Jaya, Bojonegoro Bahagia, Makmur, Membanggakan, Nyata! Karena Bojonegoro menurut sensus pertanian tahun 2023 terdapat 269.267 rumah tangga usaha pertanian yang Dimana dalam 1 rumah tangga usaha pertanian ini ada 3 orang, maka sekitar 800.000-an orang bergantung pada sektor pertanian,” kata Zaenal.

Besarnya jumlah masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat produktivitas, meningkatkan pendapatan petani, dan menjaga keberlanjutan usaha tani.

Berbagai Dukungan untuk Petani Sepanjang 2026

DKPP Bojonegoro mencatat sejumlah program dukungan untuk sektor pertanian sepanjang 2026. Bantuan tersebut mencakup pupuk bersubsidi sekitar 136.256,94 ton, pupuk NPK tembakau sebanyak 526,925 ton, serta bantuan benih sebanyak 609,5 ton.

Pemerintah daerah juga membangun Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 27.528 meter dan saluran irigasi sepanjang 1.385 meter. Selain itu, asuransi usaha tani padi diberikan untuk lahan seluas 17.000 hektare.

Dukungan infrastruktur pertanian lainnya meliputi pembangunan irigasi perpompaan di 44 titik, sumur bor di 92 titik, serta program konversi bahan bakar minyak ke listrik untuk persawahan di empat titik.

DKPP juga menyalurkan 172 unit alat dan mesin pertanian serta melaksanakan sekolah lapang sebanyak 167 kali pertemuan. Berbagai program tersebut diarahkan untuk membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mengatasi kendala dalam proses budidaya.

Dalam rangkaian Gutanbo Fest, Pemkab Bojonegoro menyerahkan bantuan alsintan kepada kelompok tani. Bantuan tersebut meliputi pompa air untuk 26 kelompok tani, 16 traktor roda dua untuk 16 kelompok tani, tiga unit combine harvester untuk tiga kelompok tani, dua hand tractor, serta bantuan mesin perajang.

Selain itu, terdapat bantuan hibah untuk listrik persawahan yang disebut mencakup empat bantuan bagi enam kelompok tani.

Pelantikan 28 PAC HKTI Perkuat Pendampingan Petani

Gutanbo Fest 2026 juga menjadi momentum pengukuhan 28 pengurus PAC HKTI di seluruh kecamatan di Kabupaten Bojonegoro untuk masa bakti 2026–2031.

Ketua DPC HKTI Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah, mengatakan pelantikan tersebut bertujuan memperkuat struktur organisasi hingga tingkat kecamatan agar HKTI dapat lebih dekat dengan kebutuhan petani.

Menurut Nurul, struktur kepengurusan PAC sebenarnya telah terbentuk sejak 2022. Pelantikan kali ini dilakukan untuk memberikan pengukuhan sekaligus memperkuat legitimasi pengurus dalam menjalankan tugas di lapangan.

Penyusunan kepengurusan melibatkan masukan dari kepala desa, DKPP, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani. Dengan keterlibatan berbagai unsur tersebut, HKTI diharapkan mampu menjadi penghubung antara persoalan petani di daerah dan program pemerintah.

Organisasi itu juga diharapkan mendukung kebijakan Pemkab Bojonegoro, DKPP, serta pemerintah pusat, khususnya program yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Perwakilan DPD HKTI Jawa Timur, Budi, yang menjabat sebagai bendahara, mengapresiasi pelantikan pengurus di tingkat kecamatan tersebut.

“Atas nama pimpinan DPD HKTI Jawa Timur, kami mengucapkan selamat atas pelantikan 28 PAC se-Kabupaten Bojonegoro. Semoga semakin nyata dalam mewujudkan petani yang makmur,” ujar Budi.

Produksi Padi Naik, Persoalan Petani Tetap Jadi Perhatian

Nurul Azizah juga memaparkan perkembangan produksi padi Bojonegoro. Menurut dia, produksi yang pada 2025 mencapai sekitar 710.000 ton meningkat menjadi sekitar 886.000 ton pada 2026.

Ia menyebut peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya menjawab sejumlah persoalan yang dihadapi petani, mulai dari ketersediaan air, pupuk, bibit, harga hasil panen, hingga pengendalian hama.

Nurul juga mengaitkan arah kebijakan pembangunan daerah dengan kondisi kesejahteraan masyarakat. Ia merujuk pada data kemiskinan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“Arah kebijakan makro Pak Bupati berimbas pada peningkatan pendapatan petani. Alhamdulillah kemiskinan di Bojonegoro sesuai dengan rilis data BPS bahwa selama decade tahun 2003-2026 penurunan kemiskinan ada diangka 17,43%,” katanya.

Ia menambahkan, dalam kurun waktu 2015–2025, perubahan angka kemiskinan terbesar yang disebutkannya mencapai 0,80 persen pada 2026. Nurul juga menyatakan bahwa berdasarkan rilis BPS pada 15 Oktober, Bojonegoro keluar dari kelompok 11 daerah dengan angka kemiskinan yang menjadi perhatian dalam pemaparannya.

Melalui Gutanbo Fest, penyaluran bantuan pertanian, dan penguatan organisasi petani, Pemkab Bojonegoro berharap peningkatan produksi dapat berjalan beriringan dengan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Target peningkatan produksi padi hingga melampaui kabupaten sentra pangan lainnya pun menjadi tantangan yang perlu ditopang oleh ketersediaan air, distribusi pupuk, teknologi, perluasan lahan, dan pendampingan petani secara berkelanjutan.

Editor : Dedi Mahdi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network