Telan Anggaran Rp1,7 Miliar, Galeri Bengawan Bojonegoro Tak Diniminati Wisatawan
TRUCUK, iNewsBojonegoro.id - Taman Galeri Bengawan yang berlokasi di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, sempat digadang sebagai ikon baru wisata edukasi berbasis sejarah dan budaya. Namun, harapan tersebut kini tampak belum sepenuhnya terwujud. Kawasan wisata yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo itu justru terlihat sepi dan minim aktivitas.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana taman yang lengang. Hampir tidak terlihat aktivitas wisata, selain beberapa warga sekitar yang melintas. Bangunan galeri yang dirancang sebagai ruang pamer seni dan kreativitas juga lebih banyak tertutup, tanpa agenda pameran maupun kegiatan rutin yang mampu menarik minat pengunjung.
Petugas loket Galeri Bengawan, Sutiono, mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung hanya terjadi pada momen tertentu. Salah satunya saat perayaan Natal 2025, ketika jumlah wisatawan sempat mencapai sekitar seribu orang.
“Setelah itu sepi lagi. Awal tahun 2026 ini hanya sekitar sepuluh pengunjung,” ujar Sutiono saat ditemui di lokasi, sabtu (17/1).
Ia menambahkan, selama ini pengelola di lapangan lebih banyak berfokus pada penjagaan dan kebersihan kawasan. Sutiono berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), dapat menghadirkan inovasi dan program berkelanjutan agar Galeri Bengawan tidak terbengkalai.
Galeri Bengawan mulai dibangun pada 2019. Pembangunan sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi Covid-19, sebelum akhirnya kembali dilanjutkan pada 2021 melalui anggaran Disbudpar Pemkab Bojonegoro sebesar Rp1,7 miliar.
Secara konsep, Galeri Bengawan memiliki nilai sejarah yang kuat. Salah satu koleksi utamanya adalah perahu kuno yang ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo sekitar tahun 2004–2005, yang diyakini berasal dari masa awal peradaban Islam.
Selain itu, galeri ini juga direncanakan menampilkan berbagai temuan lain, seperti uang kepeng, manik-manik, dan fosil, yang berkaitan dengan sejarah Bengawan Solo.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, menyampaikan pendapatan dari sektor pariwisata di Bojonegoro masih bergantung pada Kayangan Api dan Dander Park.
Dalam tiga tahun terakhir pendapatan dari sektor wisata menunjukkan fluktuatif. Pada tahun 2023, PAD pariwisata tercatat sebesar Rp 1,06 miliar, kemudian pada tahun 2024 sebesar Rp 859 juta, dan meningkat signifikan pada tahun 2025.
Lukiswati menjelaskan, beberapa destinasi wisata menjadi penyumbang terbesar PAD tahun 2025. Dander Water Park mencatat pendapatan sebesar Rp 497,9 juta, disusul Wisata Kayangan Api sebesar Rp 480,8 juta. Selain itu, Gedung Serba Guna menyumbang Rp 133,9 juta dan Waduk Pacal sebesar Rp 65,9 juta.
“Sementara objek wisata lainnya seperti Galeri Bengawan, Rumah Singgah Wonocolo, Pesanggrahan Klino, dan Padangan Heritage juga turut berkontribusi, meskipun nilainya belum terlalu besar,” imbuhnya, dikutip dari laman Pemkab Bojonegoro.
Menurut Lukiswati, Disbudpar Bojonegoro akan terus melakukan pembenahan dan inovasi, baik dari sisi peningkatan fasilitas, kebersihan, keamanan, maupun promosi destinasi wisata.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan daya tarik destinasi wisata agar sektor pariwisata Bojonegoro semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PAD serta kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Dedi Mahdi