Jejak Langkah Jeni Adilasari dari Penjual Nasi hingga ke Tanah Suci
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Saat jarum jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari di Bojonegoro, Jeni Adilasari sudah memulai aktivitasnya dengan membantu sang ibu membungkus nasi.
Kebiasaan yang ia jalani sejak duduk di bangku SMP ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk bakti nyata bagi keluarga.
Sebagian nasi bungkus itu ia titipkan ke warung, sementara sisanya ia bawa ke sekolah untuk dijajakan kepada teman-temannya di sela waktu belajar.
Kenangan masa kecil Jeni juga lekat dengan istilah unik di lingkungan rumahnya, yaitu sekolah Mekaar. Bagi warga sekitar, sekolah tersebut sebenarnya merujuk pada Pertemuan Kelompok Mingguan atau PKM yang diadakan oleh PNM Mekaar.
Di sana, para ibu, termasuk ibu Jeni, berkumpul bukan hanya untuk mengurus permodalan, tetapi juga belajar mengelola usaha dan harapan.
Pengalaman melihat sang ibu berjuang di komunitas itulah yang menanamkan tekad kuat dalam diri Jeni untuk suatu saat bisa mendampingi perjuangan para perempuan hebat tersebut.
Setamat SMA, Jeni langsung memantapkan langkah untuk mendaftar sebagai Account Officer di PNM Mekaar. Baginya, pekerjaan ini memiliki nilai emosional yang mendalam karena ia menyaksikan sendiri bagaimana program tersebut telah mengangkat derajat ekonomi keluarganya.
Selama lima tahun mengabdi, ia tidak hanya bertransformasi menjadi tulang punggung keluarga dan pendukung bagi pendidikan adik-adiknya, tetapi juga menunjukkan dedikasi luar biasa dalam memberdayakan para nasabah pendampingannya.
Kerja keras dan niat tulus Jeni akhirnya membuahkan hasil yang melampaui ekspektasinya. Pada Januari 2026, ia terpilih menerima penghargaan atas kinerja terbaiknya melalui program Employee Reward PNM yang memberinya kesempatan untuk berangkat umrah secara gratis.
Bagi Jeni, perjalanan ke Tanah Suci adalah jawaban semesta atas konsistensinya dalam menebar kebaikan, sebuah pencapaian yang terasa sangat kontras dengan masa lalunya saat masih harus bergelut dengan bungkusan nasi di waktu subuh.
Kini, setiap kali memimpin pertemuan mingguan bersama para ibu nasabah, Jeni merasa seperti sedang melihat refleksi masa lalunya. Ia memahami bahwa kehadirannya di tengah mereka bukan sekadar urusan administratif, melainkan upaya melanjutkan estafet perjuangan yang dulu dimulai oleh ibunya.
Melalui semangat pemberdayaan UMKM, Jeni terus berkomitmen membantu lebih banyak keluarga untuk berani bermimpi dan tumbuh lebih mandiri melalui pendampingan yang berkelanjutan.
Editor : Arika Hutama