Waspada! 6–12 Bayi per 1.000 Kelahiran Alami Jantung Bawaan, Ini Kata Dokter Bojonegoro
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memperkuat edukasi kesehatan masyarakat melalui kolaborasi dengan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo. Lewat talkshow radio pemkab, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ahadi, Sp.JP(K) FIHA, mengulas pentingnya deteksi dini serta penanganan penyakit jantung bawaan pada anak.
Dalam paparannya, dr. Ahadi menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur atau fungsi jantung, termasuk pembuluh darah besar, yang sudah terjadi sejak masa kehamilan. Kondisi ini berbeda dengan penyakit jantung yang muncul akibat faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, maupun kurang aktivitas fisik.
“Mayoritas kasus terjadi karena proses pembentukan jantung yang tidak sempurna saat janin berkembang. Berbeda dengan penyakit jantung yang didapat, yang umumnya dipengaruhi gaya hidup,” ujarnya.
Menurut data yang disampaikan, secara umum di Kabupaten Bojonegoro tercatat sekitar 6–12 kasus penyakit jantung bawaan dalam setiap 1.000 kelahiran. Angka ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan dan pemeriksaan sejak dini.
Deteksi awal biasanya dilakukan oleh dokter spesialis anak. Apabila ditemukan indikasi kelainan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan lanjutan.
Hingga kini, belum ada satu penyebab tunggal yang dapat dipastikan menjadi pemicu penyakit jantung bawaan. Namun, terdapat sejumlah faktor risiko yang diketahui berkontribusi, di antaranya faktor genetik serta kondisi ibu selama kehamilan.
Infeksi rubella, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, hingga penggunaan obat-obatan tertentu—termasuk obat hipertensi—dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung pada janin.
Adapun gejala yang perlu diwaspadai pada bayi meliputi mudah lelah saat menyusu, berat badan tidak bertambah sesuai usia, serta rentan mengalami infeksi saluran pernapasan. Pada kondisi tertentu, bayi dapat menunjukkan perubahan warna kebiruan pada bibir atau kuku saat menangis.
Sementara pada anak yang lebih besar, tanda dapat berupa kuku tampak lebih cembung serta mudah lelah saat beraktivitas fisik.
Penanganan penyakit jantung bawaan bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan. Pada kasus dengan lubang jantung berukuran kecil, terdapat kemungkinan menutup secara alami dalam kurun waktu lima hingga enam tahun dengan pemantauan rutin.
Namun, apabila kelainan berukuran besar atau tidak menutup dengan sendirinya, diperlukan tindakan lanjutan. Prosedur dapat berupa intervensi berbasis kateter hingga operasi jantung untuk kasus yang lebih kompleks.
Sebagai rumah sakit rujukan di Bojonegoro, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo menyediakan berbagai layanan penunjang, mulai dari rawat jalan, rawat inap, perawatan intensif, layanan cathlab, pemasangan pacemaker, hingga pemeriksaan CT Scan.
Di akhir sesi, dr. Ahadi mengimbau para calon ibu untuk memperhatikan kondisi kesehatan sebelum dan selama kehamilan. Bagi perempuan dengan riwayat penyakit jantung, konsultasi medis sangat dianjurkan guna merencanakan kehamilan yang aman.
Melalui peringatan Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan, pemerintah berharap masyarakat semakin memahami pentingnya deteksi dini demi menjaga keselamatan serta kualitas hidup anak sejak usia dini.
Editor : Dedi Mahdi