get app
inews
Aa Text
Read Next : Ramadan di Balik Jeruji: Petugas Lapas Bojonegoro Antar Sahur ke Setiap Blok Hunian

Di Balik Bangunan Kuno Kantor Polisi Ini Tersimpan Jejak Kejayaan Tembakau Bojonegoro Era Kolonial

Selasa, 17 Februari 2026 | 11:32 WIB
header img
Kantor mapolsek Padangan, jejak bangunan peninggalan belanda di Bojonegoro. (Foto: Pemkab).

PADANGAN, iNewsBojonegoro.id - Deretan bangunan tua di Kabupaten Bojonegoro menjadi penanda jejak sejarah kejayaan masa lampau. Di Kecamatan Padangan, sejumlah bangunan heritage masih berdiri kokoh, terutama di sekitar Terminal Padangan. Salah satu yang paling mencolok adalah gedung tua yang kini difungsikan sebagai kantor Polsek Padangan.

Bangunan bergaya kolonial tersebut tak sekadar menjadi kantor kepolisian sektor. Ia menyimpan rekam jejak panjang sebagai bagian penting dari jalur niaga tembakau yang pernah mengangkat nama Bojonegoro sebagai salah satu sentra “emas hijau” di tepian Bengawan Solo. Lokasinya berdampingan dengan Padangan Heritage, Local History & Museum, mempertegas kawasan itu sebagai simpul sejarah lokal.

Saksi Kejayaan Tembakau

Sebelum beralih fungsi, gedung yang kini menjadi Polsek Padangan pernah digunakan sebagai kantor tembakau sekaligus pabrik kapur. Pada masa itu, kawasan Padangan menjadi titik distribusi vital hasil perkebunan, terutama tembakau yang menjadi komoditas unggulan Bojonegoro.

Dikutip dari laman resmi Pemkab Bojonegoro pada 17 februari 2026 menjelaskan karakter arsitektur kolonial masih terjaga. Dinding tebal, pilar kokoh, jendela besar, serta langit-langit tinggi khas bangunan Belanda tetap dipertahankan. Lantai teraso bernuansa cokelat dan hijau zamrud serta detail ambang pintu bergaya lama menambah kesan historis yang kuat.

Atmosfer bangunan seakan membawa pengunjung kembali ke masa ketika Padangan menjadi pusat aktivitas ekonomi penting di wilayah barat Bojonegoro.

Tujuh Sumur Sarat Nilai Spiritual

Tak hanya bangunannya yang menyimpan cerita. Di kompleks tersebut terdapat tujuh sumur tua yang diyakini memiliki nilai filosofis dan spiritual bagi masyarakat sekitar. Pada dekade 1980-an, air dari sumur-sumur itu kerap digunakan untuk keperluan ruwatan, sebuah tradisi Jawa yang bertujuan membersihkan diri dari kesialan atau energi negatif.

“Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya,” ujar Fahrudin, penjaga Padangan Heritage sekaligus cicit H. Rasyid, pengusaha tembakau era pra-kemerdekaan yang pernah memiliki bangunan di kawasan tersebut.

Menurut Fahrudin, dirinya merupakan keturunan keempat dari H. Rasyid. Ia kerap mendampingi pengunjung yang ingin mengetahui lebih jauh sejarah bangunan dan kawasan sekitar.

Seiring waktu, penggunaan air sumur untuk ritual mulai berkurang. Kebutuhan ruwatan kini lebih banyak dipenuhi dari sumber sendang di sekitar wilayah Padangan. Meski demikian, keberadaan tujuh sumur tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah setempat.

Monumen Sejarah yang Tetap Hidup

Kini, Polsek Padangan menjalankan fungsi utamanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Namun lebih dari itu, bangunan tersebut berdiri sebagai monumen sejarah yang hidup—menghubungkan masa lalu agraris Bojonegoro dengan kehidupan masyarakat modern.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di tanah Padangan, kejayaan ekonomi berbasis perkebunan pernah tumbuh berdampingan dengan kekayaan tradisi dan budaya lokal.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut