Siapkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, TPS3R Sudu Bojonegoro Belajar dari Rengel Tuban

Arik T.P
TPS3R Sudu Bojonegoro belajar dari Desa Rengel, Tuban. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Pemerintah Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, mematangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dengan mengadopsi praktik baik dari Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan studi tiru yang melibatkan pemerintah desa, pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), serta tim pendamping di Balai Desa Rengel, Rabu (14/10/2026).

Dalam kunjungan itu, rombongan Desa Sudu mempelajari sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Materi yang dipelajari mencakup pemilahan sampah sejak dari sumber, efisiensi penimbangan dan pengolahan, hingga penguatan kelembagaan serta manajemen operasional di tingkat desa.

Salah satu perhatian utama rombongan adalah penerapan Roadmap Desa Rengel Menuju Zero Waste 2023–2030. Peta jalan tersebut menjadi panduan bagi Desa Rengel untuk mengurangi volume sampah residu yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Kepala Desa Rengel, Mundir, mengatakan, keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat membutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah desa, profesionalisme pengelola, dan partisipasi aktif warga.

Menurut dia, ketiga unsur tersebut harus berjalan beriringan dengan pembagian peran yang jelas agar sistem pengelolaan sampah dapat berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan.

“Pengelolaan sampah tidak bisa direncanakan setengah-setengah,” tegas Mundir di hadapan peserta studi tiru.

Direktur BUMDes Rahayu Sejahtera Mandiri Rengel, Kasmani, menambahkan, tata kelola dan transparansi operasional menjadi faktor penting untuk memastikan TPS3R tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, pengelola perlu memiliki sistem kerja yang terukur, mulai dari standar operasional prosedur (SOP) pengumpulan sampah hingga pembagian tanggung jawab setiap petugas.

“Jika tata kelolanya terarah, TPS3R tak sekadar mengolah limbah, tetapi juga memberi dampak ekonomi riil bagi masyarakat,” ulas Kasmani.

Bagi Pemerintah Desa Sudu, pengalaman Desa Rengel menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi dalam mengembangkan TPS3R. 

Keberhasilan pengelolaan sampah dinilai tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten serta kelembagaan yang kuat.

Kepala Desa Sudu, Abdul Manan, menyatakan, pihaknya akan mengadopsi model pengelolaan sampah dan peta jalan zero waste Desa Rengel dengan menyesuaikannya terhadap karakteristik serta kebutuhan masyarakat setempat.

“Kami belajar banyak dari Rengel, baik mengenai rantai operasional teknis maupun penguatan sistemnya. Pelajaran penting ini menjadi acuan kami untuk mematangkan langkah pengembangan TPS3R Sudu agar lebih tertata dan berdampak,” ujar Abdul Manan.

Kegiatan studi tiru tersebut terlaksana melalui dukungan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) EMCL bersama mitra pelaksana Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI).

Pimpinan Program EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, menilai pembelajaran lintas wilayah penting untuk memperluas wawasan pengelola TPS3R Desa Sudu.

Menurut dia, pengembangan sistem pengelolaan sampah tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga mencakup pembentukan sistem kerja dan kebiasaan masyarakat yang konsisten.

Melalui kunjungan tersebut, dia berharap pengelola TPS3R Sudu memperoleh inspirasi praktis sekaligus keyakinan untuk mewujudkan pengelolaan sampah mandiri.

“EMCL terus berkomitmen mendukung penguatan kapasitas ini agar Desa Sudu memiliki sistem tata kelola lingkungan yang tangguh dan berkelanjutan di sekitar wilayah operasi Banyu Urip,” tutur pria yang akrab disapa Malik tersebut.

Ketua YDTI, Mutohar Hadib, juga mengingatkan pentingnya mempelajari proses di balik keberhasilan pengelolaan sampah di daerah lain, bukan sekadar meniru hasil akhirnya.

Menurut dia, pembagian peran pengurus, konsistensi operasional, dan keterlibatan masyarakat merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan ketika menerapkan praktik serupa di Desa Sudu.

“Yang kita pelajari bukan sekadar hasil akhirnya, melainkan bagaimana proses membangun sistemnya. Pembagian peran pengurus, konsistensi operasional, hingga pelibatan warga. Dari situlah Desa Sudu bisa mereplikasi praktik baik yang relevan,” pungkas Hadib.

Sekretaris Kecamatan Gayam beserta jajarannya turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap percepatan pengelolaan sampah terpadu.

Melalui pembelajaran tersebut, TPS3R Sudu diharapkan dapat memperkuat strategi pengurangan sampah rumah tangga, meningkatkan kapasitas pengelola, serta membangun tata kelola lingkungan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network