Data Astronomi Ungkap Hilal Kemungkinan Tak Terlihat Hari Ini, Begini Kata Lembaga Falakiyah NU
JAKARTA, iNewsBojonegoro.id – Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah kembali mengacu pada metode rukyatul hilal yang dilaksanakan saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Hijriah. Jika hilal tidak teramati, maka bulan berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal.
Sekretaris Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Ikhwanudin menegaskan bahwa dasar penetapan awal bulan Hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam, bukan berdasarkan fenomena gerhana matahari.
“Dasar penetapan awal bulan hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 hijriah. Jika hilal tidak terukyat, maka dilakukan istikmal, bukan berdasarkan rukyatul kusuf. Gerhana hanya merupakan indikator,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/2/2026).
Rukyat Berstatus Fardlu Kifayah
Ikhwanudin menjelaskan, pelaksanaan rukyatul hilal pada 29 Sya’ban dan 29 Ramadan berstatus fardlu kifayah, khususnya untuk menentukan awal puasa dan Idulfitri.
Mayoritas imam mazhab sepakat bahwa rukyat menjelang Ramadan dan Syawal hukumnya fardlu kifayah. Namun, Mazhab Hanbali memiliki pandangan berbeda dengan menilai rukyat sebagai sunnah.
Data Astronomis: Hilal di Bawah Ufuk
LFNU akan menggelar rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026. Berdasarkan perhitungan untuk wilayah Jakarta, konjungsi akhir bulan Sya’ban 1447 H terjadi pada pukul 19.02 WIB.
Penghitungan dilakukan pada koordinat 06°09'32'' LS dan 106°42'56'' BT dengan elevasi 20 meter di atas permukaan laut. Saat matahari terbenam pukul 18.16 WIB di azimut 258°, posisi bulan justru tercatat berada di bawah ufuk.
Tinggi bulan toposentris tercatat minus 0,9 derajat dengan elongasi geosentris 1 derajat dan iluminasi 0 persen. Bulan bahkan telah terbenam lebih dulu pada pukul 18.12 WIB, atau empat menit sebelum matahari terbenam.
Dengan parameter tersebut, kondisi hilal dikategorikan sebagai istihalaturru’yah, yakni keadaan ketika hilal mustahil terlihat.
“Dengan parameter tersebut, kondisi hilal tergolong istihalaturru’yah, yakni keadaan ketika hilal mustahil terlihat, sehingga berpotensi istikmal. Kita tunggu hasil isbat pemerintah,” kata Ikhwanudin.
Keputusan resmi penetapan awal Ramadan 1447 H selanjutnya menunggu sidang isbat pemerintah.
Editor : Arika Hutama