get app
inews
Aa Text
Read Next : Mahasiswa Malaysia Pelajari Model KKN dan Agribisnis Berbasis Pemberdayaan di Unigoro

Pengawas SPPG Bojonegoro Akui Menu MBG Ramadan Tak Layak dan Minta Maaf

Selasa, 24 Februari 2026 | 00:44 WIB
header img
Menu MBG yang diterima pelajar di Bojonegoro pada senin 23 Februari 2026. (Foto: Istimewa).

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bojonegoro menuai sorotan publik. Sejak Senin pagi (23/2/2026), linimasa media sosial diramaikan keluhan warga terkait kualitas menu MBG yang diterima siswa di sejumlah kecamatan pada hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan.

Ratusan unggahan dan komentar beredar di platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Mayoritas wali murid mempertanyakan kelayakan dan kandungan gizi menu yang dinilai jauh dari standar.

Salah satu unggahan datang dari Indah, warga Kecamatan Purwosari. Ia menyebut anaknya yang bersekolah di Desa Purwosari hanya menerima satu botol Yakult dan sebungkus kacang koro sebagai menu MBG.

Sejumlah warganet turut mengomentari nilai dan kandungan gizi paket tersebut. Mereka memperkirakan biaya pembelian menu itu tidak mencapai Rp5.000 per paket.

“Itu nilainya berapa, sepertinya tak sampai Rp5 ribu. Terus nilai gizinya dari mana?” tulis akun Ali Mustofa.
Komentar bernada kritik juga disampaikan warganet lain. 

“Dilaporkan saja,” tulis akun Dewa Bayu. Bahkan ada yang menyebut program tersebut tidak mencerminkan tujuan pemenuhan gizi.

Selain menu Yakult dan kacang koro, wali murid juga membagikan foto paket lain yang rata-rata berisi tiga jenis makanan sederhana, seperti sepotong roti atau telur, kurma dan jeruk, bahkan ada yang hanya berisi tiga buah rambutan berukuran kecil.

Warga menghitung jika rata-rata yang diterima murid, jika dirupiahkan berjumlah Rp5 ribu. Angka tersebut dianggap jauh dari nominal yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional, yang jumlahnya mencapai Rp15.000 per porsi MBG.

SPPG Akui Mutu Kurang, Janji Perbaikan

Menanggapi polemik tersebut, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Bojonegoro, Tomi Mandala Putra, mengakui bahwa menu yang dikeluhkan tidak sesuai standar mutu gizi.

“Tidak sesuai. Kurang mutunya, perlu ditingkatkan mutunya,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Namun, saat ditanya mengenai jumlah SPPG yang diduga tidak memenuhi standar selama Ramadan serta kemungkinan sanksi yang akan diberikan, ia tidak memberikan jawaban rinci.

Tomi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas polemik tersebut.

“Pertama kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat apabila dalam pelayanan MBG ada menu yang dinilai tidak sesuai mutu gizi yang diterima,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi dan memperketat pengawasan mutu gizi selama Ramadan.

“Ke depan dan seterusnya untuk menu MBG pada bulan Ramadan akan kami lakukan perbaikan yang lebih baik dengan pengawasan mutu gizi sesuai standar yang ada,” pungkasnya.

Polemik ini memunculkan desakan publik agar pengawasan program MBG dilakukan lebih transparan, terutama menyangkut standar gizi, distribusi anggaran, dan mekanisme evaluasi di lapangan.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut