get app
inews
Aa Text
Read Next : Buka Bersama dengan Jurnalis, Bupati Bojonegoro Instruksikan OPD Lebih Terbuka kepada Media

Panen Raya Gamagora 7, Bupati Wahono Targetkan Bojonegoro Jadi Produsen Padi Tertinggi Nasional 2028

Minggu, 01 Maret 2026 | 08:13 WIB
header img
Bupati saat Panen Raya Padi Varietas Gamagora 7 di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru. Foto: iNews Bjn

KEPOHBARU, iNewsBojonegoro.id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menegaskan ambisi besar menjadikan daerahnya sebagai produsen padi dengan produktivitas tertinggi di Indonesia pada 2028. Target tersebut ditegaskan Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, saat menghadiri Panen Raya Padi Varietas Gamagora 7 di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Sabtu (28/2).

Kegiatan panen raya ini merupakan hasil kolaborasi Pemkab Bojonegoro dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam kesempatan tersebut, produktivitas gabah kering giling (GKG) dilaporkan mencapai 10 ton per hektare—angka yang dinilai menjadi sinyal kuat potensi peningkatan produksi berbasis inovasi benih dan tata kelola air.

“Pertanian adalah prioritas utama kami. Mimpi kami menjadikan Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional yang berkelanjutan. Hasil panen hari ini membuktikan bahwa inovasi teknologi benih dan manajemen air mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Wahono.

Benahi Empat Persoalan Klasik Pertanian

Bupati Wahono mengidentifikasi empat tantangan utama pertanian di Bojonegoro, yakni persoalan air dan manajemen irigasi, serangan hama, kualitas bibit, serta keterbatasan alat pertanian.

Sebagai respons, dalam setahun terakhir Pemkab telah membangun infrastruktur irigasi sepanjang 24.248 meter, melakukan normalisasi 23 embung, serta mengoptimalkan 16 titik irigasi pompa (irpom). Langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas produksi di tengah dinamika iklim.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat produksi padi Bojonegoro tahun 2025 mencapai 886.443 ton, meningkat 176.916 ton atau 24,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren positif tersebut diharapkan tetap terjaga, meski prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut 2026 sebagai tahun dengan pola cuaca normal, di mana curah hujan diprediksi tidak setinggi 2025.

Gamagora 7, Varietas “Amfibi” Andalan

Varietas Gamagora 7 menjadi tumpuan dalam strategi peningkatan produktivitas. Benih ini dikembangkan oleh peneliti UGM dan resmi memperoleh Surat Keputusan (SK) Kementerian Pertanian RI pada 2023.

Gamagora—singkatan dari Gadjah Mada Gogo Rancah—dirancang adaptif di dua kondisi lahan sekaligus, yakni lahan kering (gogo) dan lahan basah (rancah). Varietas ini juga diklaim tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe 2, penyakit hawar daun bakteri patotipe III, serta penyakit blast. Selain itu, karakter rasa pulen yang diturunkan dari indukan rojolele menjadi nilai tambah tersendiri.

Pemkab Bojonegoro berharap tidak hanya menjadi lokasi demplot, tetapi memperoleh akses lisensi agar benih Gamagora 7 dapat diproduksi dan digunakan secara masif oleh petani lokal.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Subejo, menyatakan komitmen kampus untuk memberikan lisensi terbatas (Benih Label Ungu) selama tiga tahun agar Bojonegoro mampu memproduksi benih secara mandiri.

“Bojonegoro memiliki potensi besar melampaui produktivitas nasional jika varietas ini dimasifkan dengan pendampingan teknis yang konsisten,” ujarnya.

Dengan kombinasi inovasi benih, penguatan infrastruktur, dan manajemen pertanian modern, Pemkab optimistis target 2028 bukan sekadar ambisi, melainkan agenda strategis menuju swasembada pangan berkelanjutan.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut