Tanah Longsor Putus Jalan Poros Desa di Tambakrejo Bojonegoro, Akses Warga Terhenti
TAMBAKREJO, iNewsBojonegoro.id - Peristiwa tanah longsor terjadi di Dusun Pengkol, RT 05 RW 01, Desa Pengkol, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. kejadian itu berlangsung sejak Sabtu (21/3/2026), hingga kini terus meluas, hingga mengakibatkan jalan poros desa tidak dapat dilalui.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menjelaskan bahwa longsor dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut. Selain itu, kondisi debit air yang naik turun di sekitar lokasi turut memperparah struktur tanah di area proyek pembangunan jembatan.
“Berdasarkan informasi dari perangkat desa setempat, longsor terjadi di jalan poros desa yang berada di samping pembangunan jembatan. Hujan deras serta fluktuasi debit air menjadi faktor utama penyebab kejadian ini,” ujarnya, selasa (31/3).
Akibat kejadian tersebut, jalan poros desa mengalami kerusakan cukup parah dengan dimensi panjang sekitar 36 meter, lebar 5 meter, dan kedalaman mencapai 12 meter.
Saat ini, akses utama warga tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Penanganan jalan poros desa direncanakan dilakukan setelah proses pembangunan jembatan selesai, mengingat pekerjaan dilakukan dalam dua tahap.
“Untuk sementara, jalan poros desa belum bisa digunakan. Perbaikan akan dilaksanakan setelah pembangunan jembatan rampung,” tambahnya.
BPBD Bojonegoro telah menerjunkan personel ke lokasi untuk melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Selain itu, BPBD juga menyarankan agar pemerintah desa mengajukan surat permohonan bantuan kepada Bupati Bojonegoro dengan tembusan ke BPBD dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Pemerintah desa setempat juga telah mengajukan kebutuhan darurat berupa sesek, sak, dan terpal guna penanganan sementara di lokasi terdampak.
Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi.
Editor : Arika Hutama