get app
inews
Aa Text
Read Next : Brak! Motor Drag Tanpa Lampu vs Mobil Tabrakan di Jalan Kota Bojonegoro, Begini Kronologinnya

Dampak Perang AS-Iran Perusahaan Migas Berpotensi Raup Untung Besar, Termasuk di Bojonegoro

Selasa, 12 Mei 2026 | 08:31 WIB
header img
Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-Timur. Foto: EMCL

JAKARTA, iNewsBojonegoro.id - Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membawa keuntungan besar bagi sejumlah perusahaan minyak dan gas (migas) global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat harga energi melonjak tajam dan mendorong laba perusahaan migas meningkat signifikan pada kuartal pertama 2026.

Mengutip laporan BBC, harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional naik 3,8 persen menjadi 105,20 dolar AS per barel pada Senin (11/5/2026). Sementara itu, minyak mentah yang diperdagangkan di Amerika Serikat juga meningkat 4 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati kawasan itu.

Gangguan distribusi energi menyebabkan biaya hidup meningkat dan membebani perusahaan maupun pemerintah di berbagai negara. Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi perusahaan migas yang mampu menjaga rantai pasok dan memanfaatkan fluktuasi harga energi.

Perusahaan migas asal Arab Saudi, Saudi Aramco, menjadi salah satu pihak yang menikmati lonjakan keuntungan. Perusahaan itu melaporkan laba kuartal pertama 2026 naik 26 persen menjadi 33,6 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 26,6 miliar dolar AS.

Kenaikan laba tersebut didukung optimalisasi jalur distribusi alternatif yang menghindari Selat Hormuz.

“Jalur Pipa Timur-Barat kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7 juta barel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” ujar CEO Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan.

Tidak hanya Aramco, sejumlah raksasa migas Eropa juga membukukan peningkatan laba signifikan. BP mencatat laba naik lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026.

Sementara itu, Shell membukukan laba bersih sebesar 6,92 miliar dolar AS pada periode yang sama. Adapun TotalEnergies melaporkan lonjakan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS, didorong tingginya volatilitas pasar energi global.

Berbeda dengan perusahaan Eropa dan Timur Tengah, dua raksasa migas Amerika Serikat yakni ExxonMobil dan Chevron mengalami penurunan pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Meski demikian, analis memperkirakan laba kedua perusahaan akan kembali meningkat seiring harga minyak yang masih tinggi.

Dampak kenaikan harga minyak dunia juga diperkirakan dirasakan perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Wilayah tersebut menjadi salah satu pusat produksi minyak dan gas nasional yang dikelola oleh ExxonMobil dan Pertamina.

Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited EMCL di Kecamatan Gayam, Bojonegoro, diketahui menjadi salah satu penyumbang produksi minyak terbesar di Indonesia.

Selain itu, Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB) di Kecamatan Ngasem yang dikelola PT Pertamina EP Cepu juga termasuk salah satu penghasil gas terbesar di Tanah Air.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut