Datangi 11 Kecamatan Rawan Kekeringan, Mahasiswa KKN Unigoro Dibekali Strategi Mitigasi
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Universitas Bojonegoro (Unigoro) membekali peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN TK) 2026 dengan materi pengembangan potensi desa dan mitigasi bencana kekeringan.
Pembekalan yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unigoro tersebut berlangsung di Hall Suyitno.
Kegiatan ini menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unigoro, M. Miftahul Huda, MA., serta ahli klimatologi Unigoro, Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc. Keduanya memberikan bekal kepada mahasiswa agar mampu mengidentifikasi potensi desa sekaligus memahami strategi menghadapi ancaman kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
Dalam pemaparannya, Miftahul Huda menjelaskan pentingnya analisis situasi sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi persoalan dan potensi desa secara partisipatif. Hasil pemetaan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan desa melalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threats).
“Setelah memetakan analisis SWOT, selanjutnya membuat tabel matriks dan ditentukan sebagai tabel informasi SWOT. Lalu dilakukan pembandingan antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness, dengan faktor luar Opportunity dan Threats. Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil,” paparnya.
KKN TK Unigoro 2026 direncanakan berlangsung di 11 kecamatan yang berada di sekitar kawasan hutan, yakni Kedungadem, Sugihwaras, Temayang, Gondang, Bubulan, Ngasem, Sekar, Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo, dan Bojonegoro. Wilayah-wilayah tersebut selama ini menjadi daerah yang cukup rentan terdampak kekeringan dan mendapat perhatian khusus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro.
Sementara itu, Dr. Heri Mulyanti menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau panjang guna meminimalkan dampak kekeringan. Menurutnya, wilayah yang terdampak biasanya mendapatkan bantuan distribusi air bersih sebagai langkah penanganan darurat.
“Pilihannya adalah mau adaptasi atau mitigasi? Kalau adaptasi aartinya masyarakat harus berhemat air bersih. Sedangkan mitigasi adalah mencari langkah-langkah untuk mendapatkan lebih banyak air, menyimpan lebih banyak,” terangnya.
Ia menjelaskan, mitigasi jangka panjang dapat dilakukan melalui penyesuaian terhadap sistem alam dan pembangunan infrastruktur pendukung. Adapun mitigasi jangka pendek dapat diwujudkan dengan penyediaan fasilitas penampungan air untuk kebutuhan masyarakat.
“Untuk mengurangi risiko kekeringan sejak awal langkah mitigasinya bisa dimulai dari membuat penampungan air, mencari sumber air baru, rencana distribusi air dalam keadaan darurat, konservasi mata air dan menjaga hutan, serta menabung,” papar dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro.
Meski demikian, Heri mengingatkan bahwa upaya mitigasi membutuhkan dukungan teknologi dan pendanaan yang memadai. Karena itu, pada daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur, anggaran, maupun fasilitas penyimpanan air, langkah adaptasi perlu menjadi prioritas utama sebelum menjalankan program mitigasi yang lebih luas.
Editor : Dedi Mahdi