Telur Harapan dari Bojonegoro: Ketika Program WISMANDI Mengubah Arah Hidup Pemuda
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran–Tiung Biru (JTB) pada 2021 membawa perubahan besar bagi ratusan pemuda di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.
Kondisi itu mendorong PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 menghadirkan program pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat bernama WISMANDI (Wira Usaha Muda Mandiri Berdikari).
Sebuah program yang ini dirancang untuk menciptakan sumber penghidupan baru bagi pemuda desa sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pasca berakhirnya fase konstruksi proyek migas.
Program WISMANDI diawali dengan pelatihan budidaya ayam petelur dan pemberian bantuan sekitar 2.000 ekor bibit ayam.
Para peserta yang sebelumnya terbiasa bekerja dalam lingkungan proyek migas mulai dibekali kemampuan mengelola peternakan, mulai dari perawatan ternak hingga membangun sistem distribusi dan pemasaran hasil produksi.
Keberhasilan program WISMANDI di Bandungrejo kemudian menginspirasi pengembangan model serupa di Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari. Melalui BUMDes Usaha Bhakti Manunggal, program peternakan ayam petelur mulai dijalankan sejak 2021.
Kepala Desa Kaliombo Rohmad Edi Suyanto menjelaskan jika semula hanya memiliki satu kandang berkapasitas 1.000 ekor ayam, usaha tersebut kini berkembang menjadi tiga kandang dengan total populasi 3.500 ekor ayam.
"Produksi telur mencapai sekitar 160 kilogram per hari dengan keuntungan bersih berkisar Rp9 juta hingga Rp10 juta setiap bulan. Program ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi tujuh tenaga kerja lokal," ungkapnya.
Ketua BUMDes Usaha Bhakti Manunggal Desa Kaliomo, Lilik Sugiarto, menilai program tersebut telah mengubah posisi masyarakat dari sekadar penonton menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi desa.
“Dulu kami hanya menjadi penonton. Sekarang kami menjadi pelaku ekonomi yang mandiri. Kami bisa memenuhi kebutuhan lokal sekaligus memasok pasar sekitar Bojonegoro.” paparnya.
Pengembangan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada sektor peternakan. PEPC Zona 12 kemudian mengintegrasikan WISMANDI ke dalam konsep Muda Karya Sejahtera, sebuah program agro-eduwisata yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata berbasis edukasi.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, berbagai pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia diselenggarakan, mulai dari public speaking, manajemen usaha jasa, hingga pelatihan fasilitator pemandu wisata.
Sebanyak 25 peserta dari Pokdarwis, BUMDes, dan Bank Sampah terlibat dalam kegiatan tersebut.
Kontribusi program terhadap pembangunan ekonomi desa juga melahirkan figur inspiratif. Salah satu local hero program, Lilik, berhasil meraih Beritajatim Award 2026 berkat perannya dalam memperkuat ekonomi masyarakat berbasis desa.
Seluruh program dijalankan dalam kerangka Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang telah memperoleh persetujuan SKK Migas. Implementasinya juga sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta target Sustainable Development Goals (SDGs).
Sementara itu, Manager Communication, Relations & CID PEPC, Rahmat Drajat, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada penyediaan energi nasional, tetapi juga berupaya menciptakan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Kehadiran kami tidak semata untuk mendukung ketersediaan energi nasional, tetapi juga menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui program yang mampu menjawab persoalan sosial dan lingkungan.” paparnya.
Komitmen tersebut mendapat pengakuan melalui penghargaan Gold – Best Practice in Community Development pada ajang Indonesia Corporate Sustainability Award (ICSA) 2024.
Di tengah berakhirnya aktivitas proyek migas yang umumnya meninggalkan jejak berupa infrastruktur fisik, PEPC Zona 12 menghadirkan pendekatan berbeda.
Melalui program WISMANDI di Bandungrejo dan pengembangan usaha BUMDes di Kaliombo, perusahaan berupaya meninggalkan warisan yang lebih berkelanjutan berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, serta tumbuhnya ekosistem kewirausahaan di tingkat desa.
Transformasi tersebut kini terlihat nyata. Para pemuda yang sebelumnya bergantung pada sektor migas telah berkembang menjadi wirausahawan muda yang mandiri, sekaligus menjadi penggerak ekonomi baru di wilayahnya masing-masing.
Editor : Arika Hutama