get app
inews
Aa Text
Read Next : Hutan Jati Bojonegoro Jadi Harapan Terakhir Penyelamatan Anggrek Langka Dunia

Dari Rembesan Minyak hingga Anggrek Langka, 2 Situs Ini Perkuat Geopark Bojonegoro Menuju UNESCO

Senin, 22 Juni 2026 | 12:12 WIB
header img
Tim pre assessment UNESCO Global Geopark bersama LPPM Unigoro, saat tinjau situs Kedung Lantung. (Foto: Istimewa).

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Geosite Kedung Lantung dan biosite Hutan Jati Gondang yang didampingi Universitas Bojonegoro (Unigoro) menjadi perhatian dalam rangkaian Pre Assessment Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro pada 18–19 Juni 2026. 

Kedua lokasi tersebut dinilai mampu merepresentasikan kekuatan utama Geopark Bojonegoro melalui keterkaitan antara warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Unigoro terlibat aktif sebagai mitra teknis dalam pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro. Peran tersebut mencakup riset, penyusunan narasi ilmiah, konservasi biodiversitas, hingga pendampingan masyarakat di kawasan geopark.

Di geosite Kedung Lantung, Unigoro menjadi mitra Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa program tersebut telah mendukung pengembangan kawasan secara menyeluruh.

“Melalui program ini, kawasan Kedung Lantung memperoleh dukungan berupa pengembangan infrastruktur, penguatan Pokdarwis, pelatihan pemandu, serta penyusunan materi interpretasi,” terang Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina, Senin (22/6/2026).

Saat ini, Kedung Lantung menjadi salah satu geosite unggulan Geopark Bojonegoro karena menampilkan sistem petroleum yang dapat diamati secara langsung. Fenomena rembesan minyak alami atau oil seepage di kawasan tersebut memungkinkan hubungan antara source rock, reservoir rock, dan cap rock dijelaskan kepada pengunjung.

“Gilar-gilar minyak ini muncul akibat rekahan batuan penutup yang terbentuk oleh aktivitas tektonik jutaan tahun lalu. Karena massa jenis minyak lebih rendah dibanding air, minyak bermigrasi ke permukaan dan membentuk rembesan alami yang masih aktif hingga saat ini,” imbuhnya.

Kemajuan pengembangan Kedung Lantung mendapat apresiasi dari Dewan Pakar Komisi Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Dr. Ir. Rudy Suhendar, M.Sc. Menurutnya, situs tersebut semakin siap merepresentasikan tema "Petroleum System on Land" melalui penataan kawasan, penguatan narasi interpretasi, serta peningkatan infrastruktur.

Dia juga menilai dukungan EMCL melalui program CSR telah memberikan kontribusi nyata terhadap percepatan pengembangan situs.

“Kami berharap seluruh pekerjaan yang masih berlangsung dapat dituntaskan sebelum penilaian UNESCO pada 27 Juli 2026 mendatang. Sehingga Kedung Lantung dapat tampil optimal di hadapan evaluator internasional,” ujarnya.

Komitmen serupa disampaikan secara terpisah oleh perwakilan EMCL, Slamet Rijadi. Pihaknya menegaskan dukungan perusahaan kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mempersiapkan penilaian UNESCO Global Geopark.

Menurutnya, berbagai pekerjaan infrastruktur yang saat ini berjalan akan diupayakan selesai sebelum asesmen UNESCO dilaksanakan.

Hutan Jati Gondang Tampilkan Keterkaitan Geologi dan Biodiversitas

Selain Kedung Lantung, tim pre assessment juga memberikan perhatian khusus pada biosite Hutan Jati Gondang yang dinilai menunjukkan hubungan erat antara kondisi geologi dan keanekaragaman hayati.

Ketua LPPM Unigoro sekaligus Tenaga Ahli Keanekaragaman Hayati Tim Teknis Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa kawasan tersebut tumbuh di atas Formasi Klitik yang tersusun dari batuan pasiran karbonatan dan material vulkanik.

Kondisi geologi tersebut menghasilkan tanah yang kaya kalsium, subur, namun relatif kering, sehingga berkontribusi terhadap kualitas kayu jati Bojonegoro yang dikenal kuat dengan lingkaran tahun yang rapat.

Tak hanya memiliki nilai ekonomi, Hutan Jati Gondang juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Tegakan jati tua bersama Formasi Klitik berfungsi sebagai penyimpan air alami yang menopang kebutuhan masyarakat sekitar.

“Tercatat sedikitnya 69 mata air dengan total debit mencapai sekitar 1,4 juta liter per hari yang menopang kebutuhan air masyarakat di sekitarnya. Hutan ini juga berkontribusi dalam penyerapan karbon sekaligus membantu mencegah erosi,” ungkap Laily.

Keunikan lain kawasan ini adalah keberadaan "Dendrobium capra" atau anggrek larat hijau yang berstatus Endangered (terancam punah, Red). Spesies tersebut hanya dapat hidup pada pohon jati tua berusia lebih dari 50 tahun, memiliki masa berbunga singkat, serta bergantung pada mikroorganisme tertentu untuk proses perkecambahan.

“Melalui konsep geopark, konservasi dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melindungi batuan pembentuk habitat, tegakan jati tua, dan anggrek itu sendiri dalam satu kesatuan ekosistem,” papar dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro ini.

Meski demikian, pengembangan biosite Hutan Jati Gondang masih menghadapi kendala administratif. Usulan kawasan sebagai Hutan Pendidikan dan Laboratorium Alam Unigoro melalui kerja sama dengan Perhutani KPH Bojonegoro hingga kini masih menunggu persetujuan dari Perhutani Divisi Regional Jawa Timur.

Menurut Dr Laily, keberadaan hutan pendidikan tersebut sangat penting untuk memperkuat fungsi konservasi, penelitian, edukasi, dan interpretasi geopark menjelang penilaian UNESCO yang tinggal beberapa pekan lagi. 

"Kami berharap persetujuan tersebut dapat segera terbit sehingga berbagai fasilitas pendukung dapat dipersiapkan secara optimal untuk menyambut evaluator UNESCO,” tandas Laily.

Rangkaian pre assessment ini menunjukkan bahwa Geopark Bojonegoro tidak hanya memiliki kekayaan geologi yang unik, tetapi juga didukung riset ilmiah, upaya konservasi, dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. 

Pendampingan yang dilakukan Unigoro bersama berbagai mitra menjadikan Kedung Lantung dan Hutan Jati Gondang sebagai contoh nyata integrasi ilmu pengetahuan, konservasi, dan pembangunan masyarakat menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut