Kayangan Api hingga Negeri Atas Angin, Jadi Andalan Bojonegoro Raih Pengakuan UNESCO Global Geopark
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Geopark Bojonegoro terus memperkuat persiapan menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Berbagai aspek kesiapan kawasan ditinjau melalui studi lapang pra validasi yang memasuki hari kedua bersama tim pendamping dari Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kementerian terkait, pemerintah daerah, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi awal sebelum pelaksanaan asesmen. Selain melihat langsung kondisi lapangan, tim pendamping juga memberikan berbagai masukan terkait pengelolaan kawasan, fasilitas pendukung, aspek keamanan, hingga strategi penyampaian informasi kepada pengunjung.
Rangkaian kunjungan diawali di Geosite Kedung Lantung. Selanjutnya, rombongan meninjau sejumlah destinasi unggulan yang menjadi bagian dari Geopark Bojonegoro, mulai dari sentra batik UMKM Desa Jono, Hutan Jati Gondang, Mata Air Panas Banyu Kuning, Negeri Atas Angin, hingga Geosite Kayangan Api.
Kegiatan kemudian ditutup dengan menikmati pertunjukan kesenian tradisional Cokek'an yang menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Bojonegoro dan memperkuat unsur cultural heritage dalam pengembangan geopark.
Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Sunandar, menilai Geopark Bojonegoro telah memiliki fondasi yang kuat untuk meraih pengakuan UNESCO Global Geopark.
Menurutnya, kekayaan geologi yang dimiliki Bojonegoro semakin bernilai karena didukung oleh keberagaman hayati dan budaya yang saling terhubung.
"Warisan geologi, biodiversity, dan cultural heritage yang dimiliki Bojonegoro sudah sangat baik. Tinggal beberapa hal yang perlu diperkuat agar semakin siap saat proses asesmen berlangsung," ujarnya.
Penilaian serupa juga disampaikan Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Rudy Suhendar. Ia menilai secara umum Geopark Bojonegoro telah menunjukkan kesiapan yang baik untuk menghadapi tahapan berikutnya.
Meski demikian, Rudy menekankan pentingnya memperkuat narasi besar yang menjadi identitas Geopark Bojonegoro. Menurutnya, setiap situs yang dikunjungi harus mampu menjelaskan keterkaitannya sebagai bagian dari satu sistem geologi yang utuh dan mudah dipahami.
"Yang perlu dimatangkan adalah bagaimana cerita besar Geopark Bojonegoro disampaikan secara komunikatif, baik melalui media visual maupun penjelasan langsung di lapangan," ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat penyajian sejumlah situs unggulan agar tidak hanya menampilkan aspek ilmiah, tetapi juga menggambarkan nilai budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pengunjung maupun asesor UNESCO diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik khas Geopark Bojonegoro.
Selama dua hari pelaksanaan studi lapang, tim pendamping telah memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi sebagai bahan penyempurnaan. Berbagai masukan tersebut akan menjadi tindak lanjut bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi tahapan pra validasi dan asesmen mendatang.
Melalui persiapan yang terus dimatangkan, Geopark Bojonegoro diharapkan mampu menampilkan kekayaan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya secara optimal. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan potensi Bojonegoro ke tingkat nasional maupun internasional.
Editor : Arika Hutama