Kedung Lantung Bojonegoro Tak Sekadar Geosite, KKN Unigoro Siapkan Konsep Eduwisata Penuh Cerita
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Pengembangan Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, diarahkan tidak sekadar mengandalkan pembangunan fasilitas. Penguatan sejarah, budaya, lingkungan, hingga ekonomi masyarakat dinilai penting untuk membentuk kawasan eduwisata yang memiliki daya tarik dan identitas.
Upaya tersebut salah satunya dibahas dalam Sarasehan Budaya yang digelar Bojonegoro History. Dalam forum itu, Kelompok 4 KKN Tematik (KKN TK) Universitas Bojonegoro (Unigoro) memaparkan sejumlah program yang telah dan sedang dijalankan untuk mendukung pengembangan Kedung Lantung.
Kegiatan KKN tersebut menjadi bagian dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM), EMCL bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unigoro.
Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., mengatakan keterlibatan mahasiswa diarahkan untuk memperkuat potensi lokal sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat Desa Drenges.
“Melalui berbagai program yang dilaksanakan di Desa Drenges, mahasiswa turut memperkuat upaya pengembangan potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan geosite Kedung Lantung sebagai kawasan eduwisata,” tutur Laily, Jumat (14/8/2026).

Angkat Lingkungan hingga Sejarah Desa
Ketua Kelompok 4 KKN TK Unigoro, Imdadul Muarijil Ula, mengatakan kelompoknya menjalankan sejumlah program yang menyentuh berbagai aspek potensi Desa Drenges.
Program tersebut antara lain reintroduksi anggrek Bojonegoro, penanaman pohon bougenville dan pule, pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pembuatan motif batik khas Kedung Lantung, pemetaan potensi desa, serta Ekspedisi Sejarah dan Budaya Desa Drenges.
Menurut Imdadul, beragam program itu dirancang agar pengembangan Kedung Lantung tidak hanya bertumpu pada aspek lingkungan dan keanekaragaman hayati.
“Jadi tidak hanya berfokus pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Tetapi juga budaya, sejarah, ekonomi masyarakat, serta identitas lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata di Kedung Lantung,” terangnya.
Program kerja tersebut juga diarahkan agar berjalan selaras dengan program PPM EMCL bersama LPPM Unigoro.
“Sehingga semakin memperkuat program yang sudah berjalan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi Desa Drenges,” imbuhnya.
Eduwisata Harus Berikan Pengalaman
Dalam sarasehan tersebut, perwakilan EMCL Almaliki Ukay Sukaya Subqy menekankan bahwa pengembangan kawasan eduwisata tidak cukup hanya melalui pembangunan sarana dan prasarana.
Menurut dia, pengalaman pengunjung menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik sebuah destinasi wisata. Pengunjung tidak hanya perlu melihat objek wisata, tetapi juga memperoleh pengalaman yang membekas.
“Wisata yang baik itu harus menciptakan pengalaman yang berkesan dalam setiap memori pengunjung. Oleh karena itu, kita harus gali dan kreasikan semua hal yang ada di sini. Sejak dari perjalanan menuju ke sini hingga mereka pulang,” jelas pria yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bidang komunikasi ini.
Malik mengatakan konsep tersebut relevan diterapkan dalam pengembangan Kedung Lantung. Kawasan tersebut, kata dia, perlu memiliki cerita, interaksi, dan pengalaman yang membuat pengunjung memahami keunikan Wisata Edukasi Geopark Kedung Lantung.
“Mindset dan pola komunikasi pengelola juga harus diolah agar memperkuat hospitality, meningkatkan penguasaan pengetahuan tentang Kedung Lantung, dan terus melatih kemampuan komunikasinya,” tandas praktisi komunikasi kehumasan ini.
Kolaborasi untuk Perkuat Potensi Lokal
Berbagai program yang dijalankan Kelompok 4 KKN TK Unigoro dinilai dapat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam pengembangan Kedung Lantung.
Pengembangan keanekaragaman hayati, penggalian sejarah dan budaya, penguatan UMKM, serta pengenalan identitas lokal melalui batik menjadi sejumlah aspek yang dapat memperkaya pengalaman wisata.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar pengembangan kawasan tidak hanya menghasilkan destinasi wisata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga Desa Drenges.
Kolaborasi antara EMCL, LPPM Unigoro, Kelompok 4 KKN TK Unigoro, dan masyarakat Desa Drenges diharapkan mampu menjaga kesinambungan pengembangan Kedung Lantung.
Dengan pendekatan tersebut, Kedung Lantung diarahkan menjadi kawasan eduwisata yang tidak hanya memiliki fasilitas, tetapi juga cerita, identitas, pengetahuan, serta pengalaman yang dapat dikenang pengunjung.
Editor : Arika Hutama