Geopark Bojonegoro Menuju Unesco, UMKM Balung Kuwuk Punya Peluang Mendunia
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, terus dipersiapkan untuk memiliki daya saing yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem Geopark Bojonegoro agar tidak hanya mengembangkan destinasi wisata, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Program pendampingan yang dijalankan CEMCL bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) mulai menunjukkan hasil.
Setelah memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan destinasi wisata, teknik guiding, storytelling, pengembangan geoproduk, hingga branding, kini para pelaku UMKM mendapatkan pelatihan digital marketing, penjualan, dan manajemen usaha.
Pelatihan tersebut digelar di Balai Desa Drenges, Sabtu (27/6/2026), sebagai bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) EMCL yang mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam pengembangan Geosite Kedung Lantung menuju pengakuan UNESCO sebagai bagian dari Geopark Bojonegoro.
Geoproduk merupakan barang maupun jasa yang dikembangkan masyarakat lokal dengan memanfaatkan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya setempat.
Di Desa Drenges, salah satu produk unggulan yang berkembang adalah Balung Kuwuk, camilan berbahan dasar singkong yang telah lama dikenal sebagai produk khas Kecamatan Sugihwaras.
Akademisi sekaligus praktisi UMKM regional, Muhammad Rizqi Agustino, menilai keberhasilan UMKM saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, melainkan juga kemampuan pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali strategi pemasaran melalui media sosial dan marketplace, teknik membangun identitas merek, pengemasan produk yang menarik, hingga pengelolaan usaha melalui pencatatan keuangan dan manajemen stok.
"Geoproduk Kedung Lantung memiliki potensi yang besar. Yang perlu diperkuat adalah cara mengemas, membangun identitas produk, serta memasarkan secara digital agar mampu bersaing dan dikenal lebih luas," jelasnya.
Bagi pelaku UMKM Desa Drenges, rangkaian pendampingan tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal di tengah perkembangan pasar digital.
Salah satu pelaku UMKM Desa Drenges, Julikah, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru mengenai strategi pengembangan usaha.
"Selama ini kami hanya fokus membuat produk. Setelah mengikuti berbagai pendampingan, termasuk pelatihan digital marketing ini, saya jadi tahu bagaimana memasarkan produk melalui media sosial, membuat kemasan yang lebih menarik, dan membangun kepercayaan konsumen. Ilmu seperti ini sangat kami butuhkan agar usaha bisa terus berkembang," ungkapnya.
Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, mengatakan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.
"Kami berharap masyarakat semakin siap mengembangkan usahanya sehingga produk-produk lokal Desa Drenges tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Project Manager Program Dukungan Geopark Bojonegoro dari LPPM Universitas Bojonegoro, Ichwan Hadi, menegaskan bahwa penguatan kapasitas UMKM merupakan bagian penting dalam membangun Geopark yang berkelanjutan.
"Keberadaan Geosite harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Karena itu, kami tidak hanya mendampingi pengelolaan destinasi wisata, tetapi juga memperkuat kapasitas UMKM agar mampu menghasilkan geoproduk yang memiliki daya saing dan menjadi bagian dari identitas kawasan," jelasnya.
Melalui kolaborasi EMCL dan LPPM Universitas Bojonegoro, masyarakat Desa Drenges kini tidak hanya memperoleh keterampilan mengelola destinasi wisata, tetapi juga semakin siap mengembangkan geoproduk yang mampu memperkuat identitas Geosite Kedung Lantung sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas melalui transformasi digital.
Editor : Arika Hutama