ESDM Siapkan Pabrik Metanol di Bojonegoro dan Kaltim, Groundbreaking Dimulai Bulan Ini
JAKARTA, iNewsBojonegoro.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat rencana pembangunan industri metanol dalam negeri menyusul meningkatnya kebutuhan bahan baku program biodiesel 50 persen (B50) yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Pemerintah mencatat kebutuhan metanol nasional kini mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pembangunan industri metanol menjadi langkah strategis untuk memastikan pasokan bahan baku biodiesel dapat dipenuhi dari dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Rencananya, fasilitas produksi metanol akan dibangun di Bojonegoro, Jawa Timur, serta Kalimantan Timur. Kedua proyek tersebut akan memanfaatkan sumber daya domestik berupa gas alam dan batu bara sebagai bahan baku utama.
"Munculnya B50 ini ada peningkatan kebutuhan metanol. Metanolnya kita butuh hanya untuk B50 sekitar 2,5 juta ton per tahun. Maka langkah berikut adalah kita mendorong untuk segera membangun industri metanol," ujarnya saat ditemui di sela acara Peresmian Peluncuran Mandatori B50, di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, dikutip Senin (13/7/2026).
Pemerintah menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek pabrik metanol dimulai pada bulan ini. Menurut Bahlil, pembangunan industri tersebut menjadi bagian penting untuk mendukung implementasi B50 yang membutuhkan pasokan metanol dalam jumlah besar.
"Langkah berikutnya kita mendorong segera membangun industri metanol. Ini ada di Jawa Timur sudah kita bulan ini juga kita akan melakukan groundbreaking. Dan kemudian adalah di Kalimantan Timur merupakan bagian hilirisasi daripada batu bara," imbuhnya.
Selain mendukung ketahanan pasokan bahan baku biodiesel, implementasi B50 juga dinilai mampu mengakhiri impor solar ke Indonesia.
"Ini lompatan yang sangat cepat atas dasar arahan Bapak Presiden. Dengan peluncuran B50 ini maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor solar dari negara lain," kata Bahlil.
Pemerintah juga memperkirakan produksi solar nasional akan mengalami surplus sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter seiring beroperasinya kilang baru di Kalimantan Timur. Surplus tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi avtur dalam negeri sehingga kebutuhan impor dapat terus ditekan.
"Surplusnya itu diperkirakan di antara 3-4 juta. Tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur. Kita akan mencoba untuk juga tidak lagi melakukan impor Avtur," tandasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan teknologi yang akan diterapkan di masing-masing lokasi pabrik metanol.
Menurutnya, pabrik di Bojonegoro akan menggunakan gas alam sebagai bahan baku dengan teknologi steam reforming.
"Kalo Bojonegoro kan yang pakai model apa dari gas itu prosesnya. Nanti pakai gas alam, pakai gas alam, pakai steam reforming ya kalau nggak salah ya istilah teknologinya," kata Eniya.
Adapun fasilitas di Kalimantan Timur akan mengandalkan batu bara kalori rendah (low rank coal) yang diolah melalui proses gasifikasi. Dalam proses tersebut, batu bara diubah menjadi gas sintetis (syngas) sebelum dikonversi menjadi metanol yang akan digunakan sebagai bahan campuran biodiesel.
"Kalau yang di Kalimantan kan low rank coal jadi gasifikasi pakai syngas, syngas jadi metanol. Nah itu bisa," tandasnya.
Editor : Arika Hutama