Bayar PBB Pakai Sampah, Inovasi Bank Sampah Desa Sudu Didorong Jadi Percontohan Bojonegoro
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Inovasi pengelolaan sampah di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu warga memenuhi kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Melalui Bank Sampah Berkah yang berada di Dusun Bedahan, warga dapat mengonversi nilai tabungan dari sampah terpilah untuk membayar PBB. Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono.
Apresiasi itu disampaikan Cantika saat mengikuti Kunjungan Desa Terpadu Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro di Desa Sudu, Selasa (29/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Cantika bersama jajaran Forkopimca Gayam melihat langsung proses pelayanan Bank Sampah Berkah.
Alurnya dimulai ketika warga menyetorkan sampah yang telah dipilah dari rumah. Sampah kemudian ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan nasabah. Saldo tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk membantu pelunasan kewajiban PBB.
Skema tersebut dinilai memberikan manfaat ganda. Selain mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah, sistem itu juga membantu pemerintah desa dalam meningkatkan efektivitas penarikan PBB sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat.
Pada transaksi perdana yang dilaksanakan pekan sebelumnya, sebanyak 125 dari 194 nasabah Bank Sampah Berkah telah melakukan transaksi. Dari kegiatan tersebut, terkumpul 609,4 kilogram sampah terpilah.
Bank Sampah Berkah juga berencana mengembangkan sub-unit usaha daur ulang. Limbah plastik yang terkumpul nantinya akan diolah menjadi berbagai produk kerajinan tangan sehingga memiliki nilai tambah ekonomi.
Cantika menilai inovasi yang diterapkan di Desa Sudu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan tidak hanya untuk menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan mendukung pelayanan publik.
“Model integrasi lingkungan dan kemudahan layanan publik seperti ini bisa direplikasi di desa-desa lain,” ujar Cantika saat meninjau lokasi.
Menurut dia, praktik yang berjalan di Desa Sudu perlu terus diperkuat agar dapat menjadi contoh bagi desa lain di Bojonegoro.
Inisiatif pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat tersebut berjalan melalui pendampingan berkelanjutan Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) dengan dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Pimpinan Program EMCL, Almaliki Ukay S. Subqy, mengatakan pengembangan bank sampah membutuhkan proses yang komprehensif agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Menurut dia, kebiasaan memilah sampah dari rumah merupakan fondasi penting untuk membangun budaya pengelolaan lingkungan yang bersih sekaligus memiliki nilai guna.
Dukungan EMCL terhadap Bank Sampah Berkah, lanjut Malik, merupakan bagian dari upaya mendorong praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di sekitar wilayah operasi Banyu Urip.
“Kami berharap penguatan kapasitas dan inovasi layanan seperti konversi PBB ini menjadikan bank sampah lebih mandiri, tertata, serta terus memberikan manfaat nyata bagi warga,” tutur pria yang akrab disapa Malik tersebut.
Kepala Desa Sudu Abdul Manan menambahkan, keberlanjutan program bank sampah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, pemerintah desa berharap jumlah warga yang menjadi nasabah terus bertambah.
“Jika masyarakat sudah terbiasa memilah dan menyetorkan sampah dari rumah, tentu pengelolaan lingkungan di desa kita akan jauh lebih baik,” pungkas Abdul Manan.
Editor: Dedi Mahdi