Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sebanyak 15.972 Buruh Rokok di Bojonegoro Terima BLT DBHCHT, Masing-Masing Rp875 Ribu
Advertisement . Scroll to see content

Rangkaian HJB ke-349, Bupati Bojonegoro Kenang Jejak Sejarah Adipati Haryo Matahun

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 19:11 WIB
  • author Arik T.P
Rangkaian HJB ke-349, Bupati Bojonegoro Kenang Jejak Sejarah Adipati Haryo Matahun
Bupati Bojonegoro saat ziarah di Makam Adipati Haryo Matahun. (Foto: Ist)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua TP PKK Cantika Wahono berziarah ke makam Adipati Haryo Matahun, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349.

Ziarah tersebut dilakukan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setelah rombongan menyambangi makam Buyut Dalem. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah Bojonegoro.

Setibanya di makam Adipati Haryo Matahun, Bupati dan rombongan yang mengenakan pakaian serba putih mengikuti doa bersama dengan khidmat. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga di makam.

Juru Kunci Makam Adipati Haryo Matahun, Sugianto, menjelaskan bahwa Adipati Arya Matahun dikenal sebagai Pangeran Sasongko atau Raden Songko. Ia disebut sebagai salah satu keturunan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, dari trah Raden Patah, Raja Demak.

"Adipati Arya Matahun gugur dalam pertempuran melawan pasukan Madura dan Sampang di wilayah Badholeng, Sedayu (Kabupaten Gresik). Pertempuran tersebut dipicu oleh penolakan Cakraningrat dari Madura untuk menghadap Susuhunan Pakubuwono II di Kartasura," jelas Sugianto.

Gugur dalam Pertempuran di Sedayu

Dalam catatan sejarah yang disampaikan Sugianto, Raden Adipati Arya Matahun bersama bala tentara Jipang dikerahkan untuk menyerang Madura. Namun, pihak Cakraningrat mendapat bantuan dari putranya, Raden Tumenggung Secadiningrat, yang saat itu menjadi penguasa Sedayu.

Pertempuran sengit pun terjadi di wilayah Sedayu. Dalam pertempuran tersebut, Raden Adipati Arya Matahun gugur pada Sabtu Kliwon, 3 Ruwah tahun Jimakir, yang disebut bertepatan dengan 1735 Masehi atau tahun Jawa 1666.

Setelah pertempuran berakhir, jenazahnya dibawa oleh putranya, Raden Tumenggung Kramawijaya, untuk dimakamkan secara layak di Astana Mojoranu.

Kisah tersebut menjadi bagian dari sejarah yang dikenang melalui kegiatan ziarah leluhur dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Bojonegoro.

Dalam kesempatan itu, Bupati Setyo Wahono juga menyerahkan bingkisan kepada juru kunci makam dan imam tahlil sebagai bentuk perhatian kepada pihak yang turut merawat serta mendukung pelaksanaan kegiatan ziarah.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan tumpengan bersama dalam suasana guyup. Setelah dari makam Adipati Haryo Matahun, rombongan melanjutkan ziarah ke makam Kanjeng Soemantri di Kelurahan Mojokampung.

Melalui rangkaian ziarah tersebut, peringatan HJB ke-349 tidak hanya menjadi momentum perayaan hari jadi daerah, tetapi juga kesempatan untuk mengenang tokoh-tokoh terdahulu yang menjadi bagian dari sejarah Bojonegoro.

Editor: Arika Hutama

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut