Raih Juara II Nasional, Jembatan Balsa Mahasiswa Unigoro Bobot 27,1 Gram Mampu Tahan Beban 78,91 Kg
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Terinspirasi dari desain Jembatan Kaliketek di Bojonegoro, dua mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Bojonegoro (Unigoro) berhasil meraih juara II dalam kompetisi jembatan balsa tingkat nasional.
Kegiatan tersebut digelar Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Lampung pada 13 Oktober 2026.
Prestasi ini diraih Tim Mahardina yang beranggotakan Ahmad Dani Setiya Pratama dan Nadhifa Eka Pranida. Keduanya merancang miniatur jembatan berbahan kayu balsa dengan berat hanya 27,1 gram, tetapi mampu menahan beban hingga 78,91 kilogram.

Keberhasilan itu tidak diraih secara instan. Dani mengatakan, timnya membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk melakukan riset, uji coba, hingga menyelesaikan prototipe jembatan sesuai ketentuan kompetisi.
Peserta ditantang merancang jembatan dengan mempertimbangkan efisiensi penggunaan material dan aspek estetika. Pada tahap eliminasi, Tim Mahardina mampu menyelesaikan pembuatan jembatan dalam waktu tiga jam.
“Semua tahapan di kompetisi ini berlangsung via daring. Di tahap eliminasi tanggal 11 Oktober 2026, kami mengirimkan video proses pembuatan jembatan. Kemudian dilanjut tahap pembebanan tanggal 12 Oktober 2026,” tuturnya, Jumat (16/10/2026).
Terinspirasi Jembatan Kaliketek
Dalam kompetisi tersebut, efisiensi material menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian. Perhitungannya didasarkan pada perbandingan antara berat beban yang mampu ditahan dan berat jembatan yang dihasilkan.
Dengan bobot 27,1 gram, jembatan karya Dani dan Nadhifa mampu menahan beban sebesar 78,91 kilogram. Capaian itu didukung pemilihan desain dan kombinasi material yang disesuaikan dengan fungsi masing-masing bagian struktur.
Dani menjelaskan, desain jembatan mereka terinspirasi dari Jembatan Kaliketek dengan tipe Warren. Desain tersebut kemudian dimodifikasi agar penggunaan material lebih efisien tanpa mengabaikan kekuatan struktur.
“Jadi sistem penilaian terbagi 30 persen untuk estetika dan 70 persen untuk efisiensi. Secara estetika, desain kami terinspirasi dari jembatan Kaliketek tipe warren. Itu nanti dimodifikasi lagi untuk penggunaan bahan ada beberapa tipe kayu yang digunakan. Soft, medium, sampai hard. Kita kombinasikan untuk capai efisiensi tertinggi,” terang Dani.
Kombinasi kayu balsa dengan tingkat kekerasan berbeda menjadi strategi tim untuk mengoptimalkan kemampuan jembatan dalam menahan beban. Material dipilih berdasarkan karakteristik dan fungsi struktur, terutama pada bagian yang menerima gaya tekan dan tarik.
Nadhifa menjelaskan, bagian struktur tekan diperkuat menggunakan kayu dengan tingkat kekerasan medium dan hard. Sementara itu, bagian struktur tarik di tengah jembatan dan gelagar memanfaatkan kombinasi kayu medium dan soft.
“Nah di struktur tekan inilah kita mengkombinasikan dengan perkuatan berupa perkerasan medium dan hard. Karena untuk menerima beban paling tinggi serta bagian tarik tengah dan gelagar ini menggunakan perkerasan medium dan soft. Sebab sifatnya elastis dan lebih tahan terhadap gaya tarik,” imbuhnya.
Evaluasi untuk Penyempurnaan Desain
Meski berhasil meraih posisi kedua, Tim Mahardina masih menerima sejumlah masukan dari dewan juri. Salah satu aspek yang perlu ditingkatkan adalah estetika prototipe, meskipun desain yang dibuat telah memenuhi ketentuan kompetisi.
Menurut Nadhifa, aspek estetika tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga kerapian pengerjaan dan ketepatan ukuran setiap bagian jembatan.
“Aspek penilaian estetika terdiri dari kerapian, visual, dan tingkat presisi tinggi,” pungkas Nadhifa.
Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Tim Mahardina untuk menyempurnakan desain dan teknik pengerjaan pada kompetisi berikutnya. Prestasi ini sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa Teknik Sipil Unigoro dalam mengembangkan desain konstruksi yang mengutamakan efisiensi material, kekuatan struktur, dan nilai estetika.
Editor: Arika Hutama