Bukan Sekadar Penerima Manfaat, Pelajar Bojonegoro Diajak Kawal Dana Abadi Pendidikan dari Migas
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Organisasi masyarakat sipil Bojonegoro Institute, mendorong pelajar terlibat aktif dalam mengawasi pengelolaan Dana Abadi Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kekayaan minyak dan gas bumi (migas) dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi pendidikan dan kesejahteraan lintas generasi.
Direktur Bojonegoro Institute, Aw Saiful Huda, mengatakan, partisipasi pelajar menjadi bagian penting dalam mendorong tata kelola Dana Abadi Pendidikan yang profesional, transparan, dan akuntabel. Pelajar tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi juga memiliki peran dalam mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut.
“Pelajar tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat Dana Abadi Pendidikan. Mereka juga merupakan aktor penting dalam mengawal kebijakan ini, memastikan pengelolaannya berjalan transparan dan akuntabel, serta penggunaannya benar-benar sesuai dengan tujuan pembentukannya,” ujar Awe, panggilan akrabnya, kamis (15/10).
Menurut Awe, Dana Abadi Pendidikan memiliki posisi strategis bagi masa depan Bojonegoro sebagai daerah penghasil migas. Sebab, minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam tidak terbarukan yang jumlahnya terbatas. Pengelolaannya perlu mempertimbangkan kepentingan masyarakat saat ini sekaligus hak generasi mendatang.
Dalam konteks tersebut, Dana Abadi Pendidikan dapat menjadi instrumen untuk mengalihkan manfaat kekayaan alam menjadi investasi jangka panjang di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Keberhasilan pengelolaan dana tersebut, lanjutnya, tidak cukup dinilai dari jumlah dana yang terkumpul. Aspek transparansi, pemerataan penerima manfaat, dampak bagi masyarakat, serta keadilan antargenerasi juga harus menjadi perhatian.
“Keberhasilan Dana Abadi tidak cukup hanya diukur dari besarnya dana yang dihimpun. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana dana tersebut dikelola, siapa yang memperoleh manfaat, sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat, dan apakah kebijakan ini benar-benar menjamin keadilan antargenerasi. Di sinilah pengawasan publik, termasuk partisipasi pelajar, menjadi sangat penting,” tambahnya.
Untuk memperluas keterlibatan generasi muda, Bojonegoro Institute bekerja sama dengan Forum Anak Bojonegoro menggelar Lokakarya Dana Abadi Migas Bidang Pendidikan Kabupaten Bojonegoro pada 26 September 2026. Kegiatan yang didukung Ford Foundation tersebut diikuti sekitar 50 pelajar dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.
Lokakarya itu menjadi ruang belajar dan dialog bagi para pelajar untuk memahami keterkaitan antara kekayaan migas, pembangunan daerah, krisis iklim, dan masa depan pendidikan di Bojonegoro.
Peserta tidak hanya mempelajari mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan Dana Abadi Pendidikan, tetapi juga diajak memahami proses terbentuknya migas sebagai sumber daya alam tidak terbarukan. Mereka turut mempelajari dampak aktivitas pertambangan migas terhadap lingkungan dan kaitannya dengan krisis iklim.
Bojonegoro Institute menilai pelibatan pelajar dalam pengawasan Dana Abadi merupakan bagian dari upaya membangun budaya keterbukaan dan akuntabilitas dalam tata kelola sumber daya alam.
Melalui partisipasi tersebut, generasi muda diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kebijakan publik, sekaligus memperoleh ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mengkritisi keputusan yang berpengaruh terhadap masa depan mereka.
“Pelajar memiliki hak berpartisipasi, menyampaikan pendapat dan aspirasi terkait pembangunan, termasuk dalam pengelolaan Dana Abadi dan penggunaannya,” pungkas Awe.
Editor: Arika Hutama