Guru Bojonegoro Disiapkan Hadapi Era AI dan Cetak Juara Olimpiade Sains Nasional

Arik Tri P
Diskusi Kelompok Terarah yang diselenggarakan di Universitas Bojonegoro. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Peningkatan kapasitas guru dan pembinaan siswa berprestasi menjadi fokus kolaborasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro), EMCL, dan Pusat Belajar Guru (PBG) Bojonegoro.

Kolaborasi tersebut dimatangkan melalui Diskusi Kelompok Terarah (FGD) yang digelar Kamis (3/9/2026). Forum itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan pendidikan untuk memetakan kebutuhan sekolah sekaligus menyempurnakan desain program.

FGD dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bojonegoro, kepala sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs, serta perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG) SD.

Program yang dibahas mencakup penguatan kompetensi pembelajaran, pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI), serta pembinaan siswa berprestasi untuk menghadapi Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Ketua LPPM Unigoro Dr. Laily Agustina Rahmawati mengatakan, FGD tersebut memiliki dua tujuan utama. Pertama, menjaring masukan dari pemangku kepentingan pendidikan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan program. 

Kedua, memetakan kesiapan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dalam membangun kelas pembibitan siswa untuk OSN.

“FGD ini kami gunakan untuk mendengar kebutuhan sekolah sekaligus melihat kesiapan SD dan SMP dalam membangun kelas pembibitan siswa berprestasi, khususnya untuk OSN,” ujar Laily.

Menurut Laily, masukan dari sekolah diperlukan agar program yang disusun tidak hanya berorientasi pada pelatihan, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata guru dan siswa di lapangan.

Penanggung Jawab Program PBG dari EMCL, Joni Wicaksana, mengatakan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) EMCL mencakup empat bidang, yaitu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan lingkungan.

Untuk bidang pendidikan, EMCL mengintegrasikan konsep Unigoro dengan PBG. Pengaktifan kembali PBG diharapkan menjadi salah satu sarana untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bojonegoro.

“Kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen industri hulu migas dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya di bidang pendidikan,” katanya.

Guru pembimbing menjadi perhatian

Dalam diskusi, peserta menyoroti tantangan pembinaan OSN yang tidak hanya berkaitan dengan kesiapan siswa. Kapasitas guru pembimbing juga dinilai menentukan keberhasilan pembinaan, terutama dalam penguasaan materi dan pengalaman menghadapi kompetisi.

Ahmad Wahab, perwakilan MGMP IPA SMP, mengatakan guru pembimbing perlu mendapat penguatan kemampuan sekaligus pendampingan secara berkelanjutan.

“Untuk membimbing OSN, guru harus benar-benar memahami materi dan memiliki pengalaman dalam pembinaan. Harapannya, program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan bagi guru,” ujarnya.

Selain penguatan kapasitas individu guru, peserta mengusulkan pola kolaborasi antar-sekolah. Salah satunya melalui mekanisme pembibitan silang agar guru yang memiliki kemampuan membimbing OSN dapat membantu siswa dari sekolah lain.

Usulan tersebut disampaikan Eko Prasetyo Utomo, perwakilan MGMP IPS SMP.

“Mungkin bisa dilakukan pembibitan silang. Guru yang berminat membimbing tetapi tidak memiliki siswa yang mengikuti OSN dapat membantu membina siswa dari sekolah lain,” ungkap Eko.

Pola tersebut dinilai dapat memperluas pemanfaatan sumber daya guru sekaligus membuka akses pembinaan bagi siswa dari sekolah yang memiliki keterbatasan tenaga pembimbing.

Pembinaan dimulai sejak SD

Peserta FGD juga mendorong agar proses pembinaan siswa berprestasi dimulai sejak sekolah dasar. Langkah itu dinilai penting untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa lebih dini.

Kepala SD Luqman Al-Hakim, Khalala Q, mengatakan sekolahnya telah memiliki pengalaman meraih prestasi di tingkat kecamatan. Namun, pembinaan masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya keterbatasan bank soal.

“Jika pembinaan dimulai lebih awal, potensi siswa bisa ditemukan dan dikembangkan sejak SD,” ujarnya.

Selain jenjang pendidikan, pemerataan akses juga menjadi perhatian. Sekolah berbasis agama dinilai perlu memperoleh kesempatan yang sama dalam pembinaan maupun kompetisi OSN.

Kasi Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro Achmad Miftakhus Shalihin berharap program tersebut turut menjangkau sekolah-sekolah berbasis agama.

“Sekolah agama juga perlu diperhatikan. Sekolah berbasis agama juga perlu mendapat akses ke OSN seperti sekolah negeri,” katanya.

Seluruh masukan yang disampaikan dalam FGD akan menjadi bahan bagi LPPM Unigoro, PBG, dan EMCL untuk menyempurnakan desain program. Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan.

Melalui pengaktifan kembali PBG, kolaborasi tersebut diharapkan menyediakan ruang belajar bersama bagi guru sekaligus memperluas akses pembinaan siswa. Dalam jangka panjang, program itu diharapkan turut memperkuat kualitas guru dan mendorong lahirnya lebih banyak siswa berprestasi di Kabupaten Bojonegoro.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network