Indeks Literasi Digital Pelajar Bojonegoro Naik Jadi 79,2, Penggunaan AI Kian Kritis

Dedi M.A
Sejumlah pelajar saat mengikuti kegiatan literasi diital. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Indeks literasi digital pelajar SMA sederajat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mencapai 79,2 dari skala 100. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam menggunakan teknologi secara bijak, memverifikasi informasi, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pembelajaran.

Berdasarkan survei Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro pada September 2026, indeks tersebut meningkat 4,1 poin dibandingkan hasil survei awal yang berada di angka 75,1.

Salah satu perubahan yang menonjol ialah menurunnya kebiasaan menyalin langsung jawaban AI atau copy-paste. Jika pada awal program perilaku tersebut ditemukan pada 15,2 persen siswa, kini angkanya turun menjadi 2,5 persen.

Manager Program PDPM Bojonegoro, Solikhul Anwarudin, menjelaskan bahwa sebagian besar pelajar mulai menunjukkan sikap lebih kritis dalam menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

“Sebagian besar pelajar kini memilih menguji ulang jawaban AI (65,3 persen) dan mengolah kembali datanya (29,2 persen) sebelum digunakan. Sebanyak 88,3 persen siswa juga terbiasa melakukan verifikasi kebenaran (fact-checking) sebelum membagikan informasi,” terang Solikhul kepada media pada Sabtu (26/9/2026).

Survei tersebut melibatkan 590 siswa SMA, SMK, dan MA yang mewakili wilayah Bojonegoro bagian barat, tengah, selatan, dan timur. Adapun jumlah sekolah SMA sederajat di kabupaten tersebut mencapai 177 sekolah dengan total murid hampir 50.000 siswa.

Pelaksanaan survei dipimpin Solikhul bersama tim pakar dan akademisi, dengan melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bojonegoro, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, serta Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro.

Etika Digital Raih Skor Tertinggi

Hasil survei mengukur empat pilar utama literasi digital, yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Pilar etika digital mencatat skor tertinggi, yakni 82,2. Berikutnya, budaya digital memperoleh skor 79,6, keamanan digital 77,7, dan kecakapan digital 77,3.

Secara keseluruhan, sebanyak 66,8 persen siswa masuk kategori literasi digital baik. Sementara itu, proporsi siswa dalam kelompok berisiko tinggi turun menjadi 5,3 persen.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan survei awal program. Proporsi siswa dalam kategori baik bertambah 10,9 poin persentase, dari 55,9 persen menjadi 66,8 persen. Sebaliknya, kelompok berisiko tinggi menyusut 5,5 poin persentase, dari 10,8 persen menjadi 5,3 persen.

Perubahan itu terjadi setelah pelaksanaan Program Literasi Digital Sehat dan Cerdas untuk Remaja yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama PDPM Bojonegoro pada April hingga September 2026. Program tersebut dilaksanakan di 20 sekolah.

Indeks Kecakapan Digital Naik 5,8 Poin

Jika dibandingkan dengan survei awal, peningkatan paling besar terjadi pada pilar kecakapan digital. Skornya naik 5,8 poin, dari 71,5 menjadi 77,3.

Pilar budaya digital juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 5,2 poin, dari 74,4 menjadi 79,6. Sementara itu, etika digital meningkat 4,4 poin menjadi 82,2 dan keamanan digital bertambah 0,9 poin menjadi 77,7.

Peningkatan tersebut sejalan dengan pendampingan yang mendorong siswa memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif, terutama dalam pembelajaran dan pemeriksaan kebenaran informasi.

Dampak program juga terlihat pada kebiasaan membaca. Proporsi siswa yang membaca kurang dari 30 menit sehari atau tidak pernah membaca turun 20,2 poin persentase, dari 62,7 persen menjadi 42,5 persen.

Meski demikian, survei tersebut mencatat tantangan terkait durasi penggunaan internet. Proporsi siswa yang mengakses internet selama empat jam atau lebih per hari meningkat dari 51,6 persen menjadi 70 persen.

Bahkan, sebanyak 32 persen siswa tercatat menghabiskan waktu lebih dari enam jam sehari di ruang digital.

Temuan ini menjadi catatan bagi pelaksanaan program literasi digital berikutnya. Peningkatan kecakapan menggunakan teknologi dinilai perlu diimbangi dengan edukasi mengenai pengelolaan waktu dan kesehatan digital atau digital wellbeing.

Peran Teman Sebaya untuk Tangkal Perundungan Siber

Tantangan lain yang menjadi perhatian ialah perundungan siber atau cyberbullying. Dalam survei tersebut, sebanyak 51,4 persen siswa mengaku pernah menyaksikan perundungan di ruang digital.

Untuk merespons persoalan tersebut, program menghadirkan Youth Cyber Leader, yakni edukator sebaya yang berperan menyebarkan pesan positif dan membangun budaya saling mengingatkan di lingkungan sekolah.

Partisipasi aktif teman sebaya tercatat mencapai 83,1 persen. Keterlibatan ini menjadi salah satu unsur pendukung penyebaran edukasi mengenai penggunaan internet yang aman dan bertanggung jawab.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Bojonegoro, Arif Afandy, mengapresiasi pendekatan edukasi berbasis komunitas sekolah yang dijalankan PDPM Bojonegoro bersama EMCL.

Menurut Arif, program tersebut memberikan dampak positif bagi pelajar SMA sederajat di Bojonegoro.

“Kami berharap ruang-ruang literasi ini dapat terus berkelanjutan guna membentengi generasi muda dari dampak negatif teknologi,” ungkap Arif.

Dorong Keberlanjutan Program

Pimpinan Program EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, mengatakan peningkatan indeks literasi digital tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

Ia berharap capaian tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan melalui keterlibatan guru-guru champion yang telah dibentuk di setiap sekolah.

Selain itu, para siswa terpilih didorong menjadi agen perubahan atau agent of change untuk membangun pola interaksi digital yang lebih sehat.

Almaliki menambahkan, program yang berkolaborasi dengan SKK Migas tersebut merupakan bagian dari komitmen EMCL dalam mendukung agenda pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat di era digital.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, pihak sekolah, para guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat luas yang telah berjalan bersama dalam menjaga ruang digital kita tetap aman, kritis, dan beretika,” pungkas pria yang akrab dipanggil Malik itu.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network