get app
inews
Aa Text
Read Next : Terima 107 Armada KDMP, Ini Pesan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono

Bojonegoro Siapkan Strategi Hadapi Kemarau Panjang 2026, Petani Diminta Ubah Pola Tanam

Rabu, 08 April 2026 | 08:20 WIB
header img
Peta Bojonegoro untuk memitigasi kemarau tahun 2026. Foto: Pemkab

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau panjang pada 2026 yang diperkirakan lebih kering dari kondisi normal. Upaya tersebut dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor 520/531/412.221/2026 tertanggal 16 Maret 2026, yang berfokus pada mitigasi dampak kemarau di sektor pertanian.

Dalam edaran tersebut, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen, terutama petani, dalam menghadapi keterbatasan air yang diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya.

Berdasarkan prakiraan dari BMKG Tuban, awal musim kemarau di wilayah Bojonegoro akan terjadi secara bertahap mulai April hingga awal Mei 2026. Sejumlah kecamatan seperti Balen, Baureno, Kanor, dan Kepohbaru diprediksi mulai memasuki kemarau pada pertengahan April. Sementara itu, sebagian besar wilayah lain menyusul pada akhir April, dan sisanya pada awal Mei.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah menetapkan sejumlah langkah strategis untuk menekan dampak kekeringan terhadap produksi pertanian. diantaranya:

1. Pengelolaan Air Secara Efisien, melalui optimalisasi pemanfaatan sumber dan jaringan air yang tersedia, dengan menerapkan ingasi hemat air secara berglinan berdasarkan pada rekomendasi dan arahan petugas teknis dari Dinas PU SDA Kabupaten/Provinsi maupun Penyuluh Pertanian di masing-masing wilayah.

2. Penyesulan Pola dan Waktu Tanam, melalui penyesuaian kalender/jadwal tanam dengan kondisi ketersediaan air. Dihimbau untuk mengganti komoditas dari padi ke tanaman polawija, dan bagi daerah yang secara teknis masih mendapatkan pelayanan air irigasi, maka dianjurkan untuk lebih mengutamakan menanam padi varietas tahan karing umür genjah antara 70-90 HST.

3. Perlindungan Tanaman, dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) secara terpadu dan ramah lingkungan, melalui upaya pemanfaatan secara optimal penggunaan pupuk organik, agens hayati dan biosaka serta secara proaktif berkonsultasi dengan Penyuluh Pertanian maupun Petugas POPT.

4. Penguatan Kelembagaan dan Gotong Royong, melalui sinergi antar petani dalam satu hamparan Kelompok Tani/Gapoktan dengan GHIPPA dan petugas, melakukan kerja bakti pembenahan dan pembersihan saluran irigasi agar tetap berfungsi normal dan secara proaktif berkonsultasi dengan petugas teknis dari Dinas PU SDA Kabupaten/Provinsi serta meningkatkan keaktifan kelompok tani/HIPPA/GHIPPA dalam pengelolaan air dan jadwal tanam.

5. Peningkatan Peran Pemerintah Desa, Kelurahan dan Kecamatan, melalui koordinasi terkait distribusi air secara adil, fasilitasi kebutuhan sarana prasarana pertanian sesuai kewenangan dan secara berkala melaporkan kondisi lapangan kapada Pemerintah Kabupaten.

“Mari bersama-sama meningkatkan peran pemerintah mulai dari pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan, melalui koordinasi terkait distribusi air secara adil, memfasilitasi kebutuhan sarana prasararana pertanian sesuai kewenangannya,” tegas Bupati Wahono. 

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut