Gerakan Mpok Damira: Kisah Warga Ngumpakdalem Sulap Sampah Jadi Tabungan
DANDER, iNewsBojonegoro.id - Di sudut Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, aroma yang dulu dihindari kini justru menjadi awal perubahan. Tumpukan sampah yang sebelumnya dianggap masalah, perlahan disulap menjadi sumber manfaat oleh sekelompok warga yang tergabung dalam Kelompok Dalem Mandiri Sejahtera, atau yang akrab disebut Mpok Damira.
Alih-alih menjauh, mereka memilih mendekat memilah, mengolah, dan memberi nilai baru pada sesuatu yang selama ini dipandang tak berguna.
Setiap hari, kelompok ini mampu mengelola hampir satu ton sampah, tepatnya sekitar 945 kilogram. Sebagian besar berasal dari rumah tangga, sementara sisanya dari aktivitas toko dan perkantoran. Bagi mereka, angka tersebut bukan sekadar capaian, melainkan bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana kesadaran.
Di balik gerakan ini, ada sosok Eni Suhartini, yang menjadi salah satu motor penggerak Mpok Damira. Ia mengaku langkah ini berawal dari dorongan pribadi untuk melihat lingkungannya lebih bersih.
“Saya tergerak karena kesadaran sendiri. Ingin membantu desa agar lebih bersih, meski awalnya tidak mudah,” ujarnya.
Memang, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan terbesar bukan pada teknis pengelolaan, melainkan pada kebiasaan masyarakat. Pada awalnya, banyak warga enggan memilah sampah. Alasan klasik seperti rasa jijik hingga kesibukan menjadi penghalang.
Namun, pendekatan yang konsisten perlahan membuahkan hasil. Edukasi dari rumah ke rumah, contoh nyata, hingga sistem “menabung sampah” membuat warga mulai berubah. Sampah tak lagi dibuang begitu saja, tetapi dipilah sejak dari dapur.
Sampah organik diolah menjadi pupuk yang kembali menyuburkan tanah, sementara sampah non-organik dikumpulkan dan memiliki nilai jual. Dari sesuatu yang dibuang, kini menjadi sesuatu yang dihargai.
Dampaknya terasa nyata. Lingkungan desa menjadi lebih bersih, tumpukan sampah liar berkurang, dan roda ekonomi warga ikut bergerak. Apa yang dilakukan Mpok Damira perlahan menjelma menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar program kelompok.
Eni berharap, apa yang dimulai di Ngumpakdalem tidak berhenti di desanya saja. Ia ingin kesadaran ini meluas ke seluruh wilayah Bojonegoro.
“Semakin banyak yang memilah sampah dari rumah, semakin sedikit yang terbuang ke TPA. Mari kita jaga lingkungan untuk anak cucu kita,” tuturnya.
Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks, kisah kecil dari Ngumpakdalem ini menjadi pengingat: perubahan besar sering kali lahir dari keberanian untuk melakukan hal yang berbeda.
Editor : Arika Hutama