Dolar Tembus Rp17.600, Harga Sembako di Bojonegoro Kian Mahal, Pengeluaran Keluarga Membengkak
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. Lonjakan harga yang terjadi di pasar tradisional disebut dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dikabarkan telah menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar pada Minggu (17/5/2026).
Meningkatnya harga bahan pokok berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga warga. Salah seorang warga Bojonegoro, Rinawati, mengaku beban belanja keluarga kini semakin berat karena harga kebutuhan sehari-hari terus naik.
“Ini pendapatan suami kerja tidak naik, tapi harga-harga semua pada naik, gimana ini pemerintah,” keluhnya, senin (18/5).
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan harga dari Disdagkopum Kabupaten Bojonegoro, sejumlah komoditas strategis mengalami kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir.
Harga beras premium tercatat naik menjadi Rp15.350 per kilogram dari sebelumnya Rp14.824 atau meningkat sekitar 3,43 persen. Sementara beras medium kini dijual Rp13.125 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada gula pasir dalam negeri yang kini berada di angka Rp17.375 per kilogram atau naik sekitar 4,09 persen dibanding hari sebelumnya.
Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan cukup tinggi adalah minyak goreng. Harga minyak goreng kemasan sederhana kini mencapai Rp20.625 per liter atau naik sekitar 9,44 persen. Sedangkan minyak goreng curah menembus Rp21.187 per kilogram.
Di sektor protein hewani, harga daging sapi paha belakang naik menjadi Rp122.500 per kilogram. Sementara daging ayam kampung melonjak hingga Rp79.375 per kilogram atau naik sekitar 14,46 persen.
Kenaikan juga terjadi pada bawang merah yang kini dijual rata-rata Rp41.625 per kilogram atau naik lebih dari 10 persen. Harga ikan asin teri bahkan melonjak hampir 18 persen menjadi Rp105 ribu per kilogram.
Selain itu, harga cabai rawit merah naik menjadi Rp73.125 per kilogram dari sebelumnya Rp67.727 atau meningkat sekitar 7,38 persen. Sedangkan cabai merah keriting naik tipis menjadi Rp42.750 per kilogram.
Komoditas berbahan baku impor mulai ikut terdampak. Tepung terigu protein sedang kemasan kini dijual Rp11.125 per kilogram atau naik sekitar 5,48 persen dibanding sebelumnya Rp10.515 per kilogram.
Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Disdagkopum Kabupaten Bojonegoro, Yuri Nur Rahmawati, mengatakan kenaikan harga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari biaya distribusi hingga dampak tidak langsung pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Meski demikian, Yuri menegaskan pemerintah tetap melakukan pengawasan terhadap sejumlah komoditas tertentu, terutama beras dan minyak goreng yang masuk dalam pasar pantauan nasional.
“Ada beberapa pasar pantauan yang mendapat perhatian khusus sampai ke Kemendagri, khususnya beras dan minyak. Sedangkan yang lain mengikuti mekanisme harga pasar,” jelas Yuri.
Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok kemungkinan besar dipicu meningkatnya biaya transportasi dan distribusi. Selain itu, pelemahan rupiah juga berdampak terhadap harga bahan baku impor.
“Kayaknya lebih ke biaya transport. Dolar melemah secara tidak langsung mempengaruhi beberapa hal yang berkaitan dengan bahan dasar yang masih impor, seperti plastik, kedelai, tepung, pakan ternak, dan pupuk,” bebernya.
Sebagai informasi, website Disdag Online merupakan platform pemantauan harga yang menghimpun rata-rata data dari 85 pasar di 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Data tersebut merupakan harga rata-rata pasar dan bukan patokan harga tetap.
Editor : Dedi Mahdi