Mahasiswa Ciptakan Alat Penangkap Tikus Berbasis Suara, Rektor Unigoro Monev KKN TK di Ngasem
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Rektor Universitas Bojonegoro (Unigoro), Dr. Tri Astuti Handayani, SH., MM., M.Hum., melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN TK) Unigoro 2026 di Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem, Senin (27/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Rektor Unigoro meninjau pelaksanaan program Kelompok 12 KKN TK yang berfokus pada kegiatan penghijauan sebagai upaya mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan hutan selatan Bojonegoro.
Monev turut didampingi dosen pendamping lapangan (DPL), Hanin Alya' Labibah, SH., MH.
Tri Astuti Handayani menjelaskan, terdapat sejumlah indikator yang menjadi acuan dalam penilaian pelaksanaan KKN TK 2026.
Penilaian meliputi kesesuaian program kerja dengan tema KKN, pemaparan program utama dan pendukung, implementasi kegiatan, pelibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan, pengelolaan media sosial, hingga luaran program yang dihasilkan mahasiswa.
Menurut perempuan yang akrab disapa Nanin itu, keberhasilan program KKN tidak hanya diukur dari pelaksanaan kegiatan selama mahasiswa berada di lokasi, tetapi juga dari keberlanjutan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa Kelompok 12 agar melibatkan masyarakat secara aktif sehingga program penghijauan dapat terus berjalan setelah masa KKN berakhir.
"Program penghijauan yang telah dilakukan dapat terus dilanjutkan dan dirawat oleh masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan, baik bagi lingkungan maupun masyarakat," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok 12 KKN TK Unigoro, Muhammad Syahrul Muhromi, mengatakan program penghijauan dilakukan melalui penanaman pohon beringin dan trembesi di sejumlah titik.
Ia menjelaskan, waktu dan teknik penanaman disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Penanaman di lahan yang belum memiliki vegetasi dilakukan pada sore hari, sedangkan penanaman di kawasan bantaran sungai dilaksanakan pada pagi hari.
"Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan di masing-masing lokasi," ungkapnya.
Selain program utama penghijauan, mahasiswa juga melaksanakan sejumlah kegiatan pendukung, di antaranya pembuatan biopori dan alat penangkap tikus berbasis frekuensi suara.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat dalam mengendalikan hama tikus sekaligus mendukung pelestarian lingkungan di kawasan hutan selatan Bojonegoro.
Editor : Arika Hutama