BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Puluhan pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan kampus di Bojonegoro mengikuti kegiatan Sekolah Generasi Iklim yang diselenggarakan oleh Bojonegoro Institute (BI) pada 2–3 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap krisis iklim sekaligus mendorong keterlibatan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan.
Hari pertama kegiatan berlangsung di Gedung Bojonegoro Creative Hub (BCH) dengan menghadirkan pemateri dari BI dan Pilar Nusantara (Pinus). Para peserta mendapatkan materi terkait krisis iklim, kerusakan ekologi, serta dampaknya terhadap kehidupan global dan lokal.
Sementara itu, pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.
Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai persoalan pengelolaan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan, serta di bukit pacal, di kawasan hutan Waduk Pacal Kecamatan Temayang.
Direktur Bojonegoro Institute, AW Saiful Huda, menyampaikan bahwa krisis iklim saat ini menjadi isu global yang semakin mendesak. Peningkatan suhu bumi akibat emisi karbon yang tidak terkendali telah memicu berbagai bencana, seperti cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga ancaman krisis pangan dan kesehatan.
"Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap perubahan iklim, dengan tekanan besar dari sektor energi dan kehutanan. Kondisi ini juga dirasakan di tingkat lokal, termasuk di Bojonegoro, yang menghadapi persoalan banjir tahunan, kekeringan, degradasi hutan, dan penurunan kualitas lingkungan," bebernya, minggu (3/5).
Menurutnya, Bojonegoro yang memiliki sekitar 40 persen kawasan hutan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, deforestasi yang terus terjadi telah mengganggu fungsi ekologis, terutama dalam menjaga siklus hidrologi.
"Akibatnya, air hujan tidak terserap dengan baik sehingga memicu banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau," tambahnya.
Krisis air yang muncul berdampak luas, mulai dari sektor lingkungan, pertanian, kesehatan, hingga ekonomi. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kerentanan kemiskinan masyarakat.
Kegiatan bertema “Menjaga Air, Merawat Kehidupan”, BI bersama Ford Foundation berupaya menghadirkan ruang pembelajaran partisipatif bagi generasi muda.
Sementara untuk memperkuat pengetahuan para peserta, pada sesi hari kedua, jurnalis Bojonegoro, Dedi Mahdi turut dihadirkan sebagai pemateri, dia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mengampanyekan isu lingkungan.
Mentan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro ini mengajak peserta untuk lebih peka terhadap persoalan lingkungan sejak dini dan menjadikannya bagian dari perilaku sehari-hari.
"Kampanye lingkungan tidak terbatas pada media massa, tetapi juga dapat dilakukan secara kreatif melalui tulisan, foto, dan konten audiovisual di media sosial," bebernya.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
