Cerita Para Orang Tua Siswa PAUD di Bojonegoro Soal MBG: Sering Dibawa Pulang Lalu Dibuang

D. AL Mahdi
Salah satu menu MBG untuk PAUD yang dibawa pulang. Berisi rawon daging, blonceng, kripik tempe dan jeruk. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Sejumlah orang tua atau wali murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) di Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan bahwa makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak mereka kerap tidak habis dimakan.

Bahkan, menu MBG tersebut sering dibawa pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah, makanan itu tidak selalu dikonsumsi karena anak-anak disebut tidak menyukai menu yang disajikan.

“Setiap hari dibawa pulang. Kadang ya dimakan sedikit, tapi sering dibuang,” ungkap ST salah satu ortu wali murid paud di Bojonegoro, senin (27/7).

Pengalaman serupa disampaikan RH, wali murid lainnya. Menurut dia, anaknya kerap tidak menghabiskan makanan MBG karena menu yang disajikan dinilai kurang sesuai dengan selera anak.

“Menunya sering seperti orang dewasa. Paling kalua ada sneck saja yang dimakan, sedangkan nasi dan lauknya sering tak kemakan. Kadang saya makan, tapi seringnya dibuang atau dikasih makan ayam,” ucapnya.

Kami sengaja menyebut para narasumber di atas dengan inisial, karena khawatir orang tua murid mendapat tekanan dari para pihak terkait.

BGN Tekankan Variasi Menu, Agar Anak Tidak Bosan

Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan pentingnya standar keamanan pangan dan mutu gizi dalam pelaksanaan Program MBG.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib memenuhi standar keamanan pangan, mutu gizi, kebersihan, serta tata kelola yang telah ditetapkan.

SPPG yang belum memenuhi standar akan mendapatkan pembinaan dan evaluasi. Namun, apabila tidak menunjukkan perbaikan, operasional SPPG tersebut dapat dihentikan.

Kepala BGN Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar itu menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan tidak boleh dikompromikan oleh kelalaian dalam pelaksanaannya.

Menurut dia, kualitas layanan, keamanan pangan, dan mutu gizi merupakan komitmen yang harus dijaga setiap SPPG untuk melindungi kesehatan penerima manfaat sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap Program MBG.

"Kita akan perbaiki, akan kita tegur, kalau memang tidak bisa perbaiki kita tutup. Kalau memang tidak bisa memenuhi standar keamanan, standar gizi, standar mutu dan juga operasional yang baik. Jangan sampai nila setitik, kemudian rusak susu sebelanga," kata Sudaryono saat melakukan inspeksi mendadak SPPG di Bogor, Jumat (24/7).

Sudaryono menegaskan, BGN akan menerapkan pembinaan yang disertai dengan penegakan disiplin. SPPG yang menunjukkan kinerja baik akan diberikan apresiasi, sedangkan pelanggaran terhadap ketentuan akan dikenai sanksi sesuai tingkat pelanggarannya.

"Mungkin kalau SPPG-nya bandel, SPPG-nya nggak disiplin, SPPG-nya atau petugasnya nggak disiplin, petugasnya nggak bagus ya kita mesti hentikan. Kita harus berani. Yang bagus kita reward, yang jelek kita mesti kasih punishment juga," tegasnya.

Ia menjelaskan, inspeksi mendadak dilakukan secara acak di sejumlah lokasi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran objektif mengenai kondisi operasional SPPG di lapangan.

Selain itu, inspeksi juga menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi dan semangat kepada SPPG serta petugas yang telah menjalankan operasional sesuai dengan petunjuk teknis (juknis).

Dalam pemantauan di SPPG Pasir Kuda 03, SPPG Cipaku 02, dan SPPG Tegal Bundil 5, Sudaryono menyebut sebagian besar operasional telah berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Namun, ia menyebut masih terdapat tantangan yang harus dihadapi SPPG, terutama dalam menjaga variasi menu agar penerima manfaat tidak merasa bosan.

"Yang sudah bagus itu tantangannya tinggal satu yaitu variasi dari menunya. Supaya yang anak-anak maupun yang ibu-ibu yang memang mengkonsumsi itu kemudian bisa tidak bosan," ungkapnya.

Sudaryono juga mengajak masyarakat dan media turut mengawal pelaksanaan Program MBG. Menurut dia, masyarakat dapat memberikan masukan apabila menemukan pelayanan yang belum sesuai dengan standar.

Ia menilai pengawasan publik merupakan bagian penting dari upaya bersama untuk terus meningkatkan kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network