BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk memperkuat identitas Batik Bojonegoro sebagai warisan budaya daerah.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyusun kajian akademis secara komprehensif mengenai Batik Bojonegoro. Kajian mencakup penguatan identitas visual, penyusunan filosofi setiap motif, hingga peningkatan kapasitas para perajin.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi seni tersebut menjadi langkah awal untuk membangun identitas Batik Bojonegoro yang lebih kuat dan memiliki pijakan akademis.
"Ini baru langkah awal untuk menyusun kajian secara akademis mengenai Batik Bojonegoro. Kajian tersebut meliputi penguatan identitas visual hingga penyusunan filosofi pada masing-masing motif batik yang ada," ujarnya.
Menurut Cantika, kajian tersebut tidak sebatas mendokumentasikan kekayaan budaya Bojonegoro. Lebih dari itu, hasil kajian diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sumber daya manusia para perajin batik.
"Harapan kami sangat besar, terutama untuk peningkatan kapasitas para pengrajin batik di Bojonegoro. Mudah-mudahan mereka dapat memperoleh pelatihan, pendampingan, hingga proses kurasi desain maupun bentuk pengembangan lainnya yang akan memperkuat daya saing batik Bojonegoro," tambahnya.
Saat ini, terdapat sekitar 40 perajin batik di Bojonegoro yang menghasilkan karya dengan karakter dan ciri khas masing-masing.
Melalui kolaborasi dengan ISI Surakarta, para perajin diharapkan memiliki pijakan bersama dalam mengembangkan motif baru. Pengembangan tersebut tetap diarahkan agar tidak menghilangkan identitas khas Batik Bojonegoro.
Salah satu perajin batik Bojonegoro, Lukdianto, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurut dia, kunjungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Dekranasda ke ISI Surakarta pada Selasa (4/8/2026) merupakan tindak lanjut dari aspirasi para perajin.
Aspirasi tersebut berkaitan dengan pentingnya penyusunan motif pakem sebagai acuan dalam pengembangan Batik Bojonegoro.
"Harapan kami, motif pakem Batik Bojonegoro nantinya dapat menjadi acuan dan selalu dimunculkan dalam setiap pengembangan motif-motif baru yang dihasilkan oleh para perajin batik di Bojonegoro," ungkap Lukdianto.
Sementara itu, Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, menilai Bojonegoro memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi sumber inspirasi karya seni.
"Bojonegoro memiliki kearifan lokal yang dapat diterjemahkan dalam bentuk visual pada motif batik maupun karya seni lainnya. Dengan demikian, identitas Bojonegoro tidak hanya melekat secara visual, tetapi juga hidup dalam budaya keseharian masyarakat," jelasnya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan para perajin tersebut diharapkan dapat membawa Batik Bojonegoro berkembang lebih jauh.
Selain menjadi produk ekonomi kreatif, batik diharapkan tetap berfungsi sebagai media untuk menjaga sejarah, nilai budaya, dan jati diri masyarakat Bojonegoro.
Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Batik Bojonegoro agar semakin dikenal, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar internasional.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
