BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Ancaman kekeringan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berpotensi berlangsung lebih lama dan berdampak pada sektor pertanian.
Ahli Klimatologi Universitas Bojonegoro (Unigoro), Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc., memperingatkan kemungkinan mundurnya musim tanam akibat prediksi penurunan curah hujan hingga April mendatang.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai petani karena hujan yang biasanya turun dengan intensitas tinggi pada Desember diperkirakan mengalami penurunan volume. Situasi ini berkaitan dengan potensi fenomena El Niño yang dapat memengaruhi pola curah hujan.
“Karena hujan di bulan Desember biasanya turun lebat, akan berkurang volume-nya. Bahkan di laporannya WMO (World Meteorological Organization, Red) bahwa nanti probabilitas terjadi El Nino sampai bulan April,” ungkap Heri, Senin (12/10/2026).
Menurut Heri, musim kemarau di Bojonegoro dan sebagian besar wilayah Jawa Timur semestinya berakhir pada September. Namun, kondisi kemarau yang terasa lebih panjang dipengaruhi fenomena El Niño yang sangat kuat.
Jika hingga akhir Oktober hujan belum turun, kekeringan berpotensi berlanjut sampai November. Kondisi ini dapat memengaruhi ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun pertanian.
“Jadi hujannya memang belum turun sampai sekarang,” imbuhnya.
Dua faktor penyebab kekeringan
Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Unigoro itu menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan kekeringan di Bojonegoro. Pertama, rendahnya curah hujan. Kedua, ketidakmampuan wilayah menyimpan air meskipun memiliki sumber air atau menerima hujan.
Di wilayah selatan Bojonegoro, persoalan kekeringan berkaitan dengan fungsi daerah resapan yang belum optimal dalam menyimpan air. Sementara itu, wilayah utara masih menghadapi minimnya hujan.
“Jadi kita bisa melihat hampir di seluruh Kabupaten Bojonegoro untuk sekarang berisiko mengalami kekeringan. Baik itu karena hujannya kurang atau karena daerah selatan mungkin ada tapi tidak bisa tersimpan,” terang Heri.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian karena berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan kegiatan pertanian, terutama jika musim hujan datang lebih lambat dari perkiraan.
Mitigasi difokuskan pada pengurangan risiko
Heri menilai, upaya mitigasi untuk menghadapi kondisi kekeringan saat ini sudah terlambat apabila ditujukan untuk mencegah dampak dari minimnya hujan dalam waktu dekat. Karena itu, langkah yang perlu dilakukan adalah menekan risiko agar kekeringan tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.
“Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi risiko agar nanti kekeringan itu tidak mengakibatkan potensi dampak negatif yang lebih luas. Selain itu, karena saat siang terik maka penguapan tubuh banyak. Sehingga perlu minum banyak air, kalau sering di luar ruangan perlu ditambahi minuman elektrolit,” tukasnya.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan terbatasnya ketersediaan air. Sementara bagi sektor pertanian, prediksi penurunan curah hujan hingga April mendatang perlu dicermati dalam menentukan waktu tanam dan mengelola kebutuhan air.
Editor : Dedi Mahdi
Artikel Terkait
