Lima Kasus Campak Ditemukan di Bojonegoro, Balita Paling Rentan

Arik T.P
Ilustrasi penyakit campak. Foto: Istimewa

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Penyakit campak kembali menjadi perhatian pada tahun 2026 seiring masih ditemukannya kasus penularan di masyarakat. Meski tergolong penyakit lama, campak dinilai belum sepenuhnya terkendali dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Khairiyah Amalia, Sp.A dari RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro dalam talkshow program SAPA! (Selamat Pagi) Bojonegoro yang disiarkan melalui Malowopati FM.

Menurut dr. Khairiyah, campak disebabkan oleh virus measles dan kerap dianggap ringan, padahal berisiko tinggi jika tidak ditangani dengan tepat.

“Campak terlihat ringan, tetapi tidak bisa disepelekan, terutama jika sudah menimbulkan komplikasi hingga ke otak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain menimbulkan ruam pada kulit, campak juga dapat menyerang sistem pernapasan dengan gejala batuk dan pilek, serta berpotensi menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak yang dapat berujung pada kejang.

Di Kabupaten Bojonegoro, sejak Februari 2026 tercatat lima kasus campak pada anak. Sebagian besar kasus tergolong ringan dengan masa perawatan antara tiga hingga lima hari. Namun demikian, tingkat penularan penyakit ini dinilai masih tinggi.

Campak dapat menyebar melalui percikan batuk atau bersin, bahkan sejak gejala awal belum sepenuhnya terdeteksi. Satu penderita diketahui dapat menularkan virus kepada 10 hingga 15 orang lainnya.

“Penularan sudah bisa terjadi sejak gejala awal muncul, bahkan sebelum terdiagnosis,” jelasnya.

Kelompok balita disebut menjadi yang paling rentan terhadap infeksi campak karena daya tahan tubuh yang belum optimal. Selain anak-anak, orang dewasa yang berinteraksi dekat, termasuk orang tua, juga berisiko tertular.

Gejala campak umumnya diawali dengan demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius, bahkan dapat mencapai 40 derajat, disertai batuk dan pilek. Tanda khas lainnya adalah munculnya bercak Koplik di dalam mulut yang menyerupai sariawan, kemudian diikuti ruam yang menyebar ke seluruh tubuh saat demam masih berlangsung.

Dr. Khairiyah juga menekankan pentingnya membedakan campak dengan penyakit lain. Pada campak, ruam muncul saat demam masih tinggi, berbeda dengan penyakit seperti roseola yang ruamnya muncul setelah demam mereda.

Tingginya perhatian terhadap campak saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih rendahnya cakupan imunisasi akibat penundaan selama pandemi COVID-19, kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin, serta maraknya informasi hoaks terkait imunisasi.

Melalui kesempatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala campak dan memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sebagai langkah pencegahan utama.

Edukasi yang tepat dan berbasis informasi dari tenaga kesehatan dinilai menjadi kunci untuk melindungi masyarakat, khususnya anak-anak, dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network