TUBAN, iNewsBojonegoro.id - Video yang beredar di media sosial TikTok dengan narasi “Bojonegoro–Tuban Waspada Gempa Besar” sempat memicu keresahan di tengah masyarakat.
Unggahan tersebut menyebut adanya potensi gempa besar yang akan terjadi di wilayah Tuban dan Bojonegoro dengan menyertakan sejumlah istilah ilmiah yang terkesan meyakinkan.
Namun, informasi tersebut dipastikan tidak benar. Berdasarkan hasil penelusuran yang dipublikasikan melalui situs Klinik Hoaks Tuban, klaim mengenai potensi gempa besar di dua wilayah tersebut dinyatakan sebagai hoaks.
Penegasan itu disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban. Hingga saat ini, tidak ada peringatan resmi terkait potensi gempa besar di wilayah Tuban maupun Bojonegoro.
Prakirawan BMKG Tuban, Nur Syamsi Muhammad Alfian, mengatakan informasi yang beredar di TikTok tersebut juga sempat menjadi bahan pertanyaan sejumlah pihak kepada BMKG.
“Kemarin juga sempat lihat postingannya di TikTok. Kami dapat informasi itu dari rekan-rekan BPBD yang ikut menanyakan. Banyak informasi yang tidak mencantumkan sumber dan terkesan seperti menakut-nakuti,” ujarnya, dikutip dari laman Pemkab Tuban, Senin (15/6).
Alfian menjelaskan, hingga kini belum ada teknologi maupun metode ilmiah yang mampu memprediksi secara akurat waktu, lokasi, dan kekuatan gempa bumi sebelum peristiwa itu terjadi. Karena itu, klaim yang menyebut secara rinci kapan dan di mana “gempa besar” akan terjadi tidak dapat dijadikan dasar ilmiah dan tergolong spekulasi atau berita bohong.
Ia juga menyoroti penggunaan sejumlah istilah ilmiah dalam unggahan tersebut, seperti emisi gas radon, anomali gravitasi, data GPS, hingga InSAR. Menurutnya, parameter tersebut memang dikenal dalam kajian ilmiah, namun dalam unggahan viral itu digunakan tanpa sumber resmi dan disertai angka-angka yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Selain itu, narasi mengenai adanya pergeseran sesar aktif beberapa sentimeter dalam waktu singkat di kawasan permukiman, termasuk klaim kondisi tanah berubah seperti “spons yang diperas”, dipastikan tidak memiliki dasar geologis untuk kondisi normal saat ini.
BMKG juga membantah klaim yang mengaitkan badai matahari dengan potensi gempa bumi di wilayah Tuban dan Bojonegoro.
Secara ilmiah, badai matahari diketahui hanya dapat memengaruhi sistem komunikasi satelit, GPS, maupun jaringan listrik, dan belum pernah terbukti menjadi pemicu gempa tektonik besar di suatu wilayah.
Sementara itu, istilah “siku-siku Jupiter” yang turut disebut dalam unggahan viral tersebut ditegaskan bukan bagian dari terminologi dalam ilmu astronomi maupun seismologi modern.
Posisi planet Jupiter yang sangat jauh dari Bumi juga tidak memiliki pengaruh terhadap aktivitas gempa di wilayah Tuban maupun Bojonegoro.
Klinik Hoaks Tuban mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Warga yang menemukan informasi meragukan dapat melaporkannya melalui WhatsApp resmi Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Tuban di nomor 0851-6142-9771 atau melalui situs klinikhoaks.tubankab.go.id untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut.
Editor : Dedi Mahdi
Artikel Terkait
