BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Hari kedua asesmen lapangan dan validasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Geopark Bojonegoro berlangsung dengan kunjungan ke sejumlah geosite, biosite, dan cultural site unggulan.
Dua asesor UNESCO, Mr. Andreas Josef Schüller dari Jerman dan Ms. Li Yue dari China, meninjau langsung enam lokasi yang menjadi bagian penting dalam proses penilaian menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.
Rangkaian kunjungan dimulai dari Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, yang dikenal dengan fenomena rembesan minyak bumi alami (natural oil seepage) di aliran sungai.
Dari lokasi tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bojonegoro Batik Craftsman atau Omah Batik Mak Ni di Desa Jono, Kecamatan Temayang. Di tempat ini, kedua asesor tidak hanya melihat proses pembuatan batik, tetapi juga mencoba langsung membatik menggunakan teknik cap.
"This is the first time," ujar Mr. Andreas Josef Schüller antusias saat mencoba pengalaman membuat batik cap khas Bojonegoro.
Kunjungan ke Omah Batik Mak Ni juga bertepatan dengan kegiatan ekstrakurikuler membatik yang diikuti siswa SMKN Temayang. Beragam cap batik khas Bojonegoro yang tersusun rapi di ruang produksi turut diperkenalkan kepada tim asesor sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Menyaksikan Anggrek Langka di Hutan Jati Gondang
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Biosite Hutan Jati Gondang. Di kawasan ini, tim asesor mengamati keberadaan anggrek langka endemik Pulau Jawa, Dendrobium capra, yang tumbuh pada pohon-pohon jati berusia puluhan tahun.
Dengan bantuan teropong dan lensa tambahan pada gawai, kedua asesor mengamati langsung habitat anggrek yang berada di bagian atas pohon.
Tim Teknis Geopark Bojonegoro, Laily Agustina, menjelaskan bahwa keberadaan anggrek tersebut menjadi salah satu kekayaan biodiversitas yang dimiliki Bojonegoro.
"Anggrek endemik ini tumbuh pada pohon jati yang berusia lebih dari 50 tahun," ujarnya sambil menunjukkan flora yang tumbuh di pohon jati melalui live record.
Menurut Laily, kelestarian habitat anggrek tersebut terus dijaga melalui sinergi antara Perhutani, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, serta dosen dan peneliti Universitas Bojonegoro (Unigoro).
Geosite Banyu Kuning hingga Negeri Atas Angin
Usai dari Hutan Jati Gondang, rombongan menuju Geosite Banyu Kuning di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang. Lokasi ini dikenal karena endapan besi yang melapisi bebatuan dasar sungai sehingga menghasilkan warna kuning kemerahan yang khas.
Selanjutnya, tim mengunjungi Geosite Negeri Atas Angin di Desa Deling, Kecamatan Sekar. Dalam perjalanan, rombongan kembali melintasi kawasan Gunung Lawang untuk menikmati panorama alam yang menjadi bagian dari kawasan geopark.
Kunjungan hari kedua ditutup di kawasan wisata Kayangan Api, salah satu ikon geowisata Bojonegoro.
Tantangan Terbesar adalah Mempertahankan Status UNESCO
Ketua Tim Asesor Geopark Nasional, Hanang Samodra, mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya akan dimulai apabila Geopark Bojonegoro berhasil memperoleh status UNESCO Global Geopark.
Menurutnya, pengelola harus mampu menjaga kualitas kawasan karena status tersebut akan dievaluasi secara berkala.
"Karena yang sulit itu mempertahankan statusnya," ujarnya saat diwawancarai di akhir sesi pertama asesmen lapangan hari kedua.
Hanang menambahkan, seluruh pengelola dan pemangku kepentingan diharapkan tetap menjaga esensi geopark dengan mengintegrasikan aspek geologi, keanekaragaman hayati, budaya, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat.
Secara geologi, Geopark Bojonegoro memiliki 20 situs geologi yang tersebar di berbagai wilayah dengan tema The Unique Petroleum System on Land, yang menjadi salah satu keunggulan dalam proses pengusulan sebagai UNESCO Global Geopark.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
