Data BPS Terbaru: Kemiskinan Bojonegoro Turun Jadi 10,69 Persen, Pemkab Bidik Angka Satu Digit

D. AL Mahdi
Gedung Pemkab Bojonegoro. (Foto; Ist)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, turun menjadi 10,69 persen pada Maret 2026. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 11,49 persen, sekaligus menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk mengejar target kemiskinan satu digit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, penurunan sebesar 0,80 poin persentase itu setara dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin sebanyak 9.970 orang, dari sebelumnya menjadi 134.930 orang pada Maret 2026.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, penurunan tersebut menjadi salah satu capaian positif dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah. Menurut dia, penurunan sebesar 0,80 poin persentase menempatkan Bojonegoro pada posisi kelima dalam hal besarnya penurunan kemiskinan di Jawa Timur.

"Selama 8 tahun terakhir posisi kita berada di peringkat 11 besar (urutan ke-27 dari 38 kabupaten/kota). Dengan penurunan 0,80 persen di tahun ini, posisi Bojonegoro berhasil membaik dan bergeser ke peringkat 12," ungkapnya saat memberikan arahan Apel pagi, Rabu (14/10/2026) di halaman Gedung Putih.

Nurul menyebut, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai program strategis yang diinisiasi Bupati Bojonegoro Setyo Wahono. Pelaksanaan program juga didukung sinergi antara wakil bupati, asisten daerah, dan kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

"Menggeser angka kemiskinan yang biasanya hanya turun nol koma sekian persen memerlukan kerja keras. Capaian saat ini memberi kontribusi bukti bahwa data, fakta, dan kerja keras Bapak/Ibu sekalian sudah mulai terarah dan fokus pada sasaran yang tepat," tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan terus mengevaluasi program pengentasan kemiskinan agar intervensi yang dilakukan semakin tepat sasaran. Pemerintah daerah juga berencana memperkuat berbagai inovasi untuk mempertahankan tren penurunan tersebut.

Di wilayah sekitar, Ngawi disebut berada dalam kelompok lima besar, Tuban masuk enam besar, sedangkan Lamongan masuk 10 besar berdasarkan posisi yang disampaikan pemerintah daerah.

Di sisi lain, penurunan jumlah penduduk miskin perlu dilihat bersama perkembangan garis kemiskinan. BPS Bojonegoro mencatat, garis kemiskinan pada Maret 2026 mencapai Rp 531.534 per kapita per bulan, naik dari Rp 490.299 pada 2025. Kenaikan tersebut sekitar 8,4 persen dan menjadi nilai tertinggi dalam rentang data 2015–2026.

“Garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Penduduk dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin,” jelas Syawaluddin.

Dengan capaian penurunan kemiskinan tersebut, Pemkab Bojonegoro menargetkan angka kemiskinan terus ditekan hingga berada di bawah 10 persen. Evaluasi program dan ketepatan sasaran bantuan menjadi bagian penting untuk mencapai target tersebut.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network