Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kuliah Sambil Kerja Bisa Lulus 2 Tahun? Ini Jalur RPL Tipe A Unigoro dan Syaratnya
Advertisement . Scroll to see content

Misteri Sungai Berminyak di Bojonegoro, Peneliti Ungkap Adaptasi Ikan Kedunglantung

Senin, 13 April 2026 | 16:04 WIB
  • author Arik T.P
Misteri Sungai Berminyak di Bojonegoro, Peneliti Ungkap Adaptasi Ikan Kedunglantung
Sejumlah peneliti saat melakukan penelitian di kedunglantung. Foto: iNews Bjn

SUGIHWARAS, iNewsBojonegoro.id - Fenomena “gilar-gilar” yang tampak di permukaan Sungai Kedunglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menyimpan potensi ilmiah yang menarik perhatian peneliti. 

Lapisan pelangi akibat rembesan minyak bumi itu kini menjadi objek kajian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) bersama Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban.

Penelitian yang dimulai pada awal April 2026 ini berfokus pada identifikasi organisme perairan, meliputi nekton, plankton, dan bentos, guna memahami daya tahan ekosistem di tengah paparan hidrokarbon alami.


Rembesan minyak di Kedunglantung

Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, mengungkapkan bahwa kondisi sungai secara visual memang menunjukkan adanya lapisan minyak. 

Namun, hasil pengujian laboratorium memperlihatkan bahwa kualitas air masih berada di bawah ambang batas baku mutu.

“Secara kasat mata ada lapisan minyak, namun hasil uji laboratorium menunjukkan parameter oil & grease masih di bawah baku mutu air kelas 3 yakni 0,417 mg/L. Ini menarik, ada dugaan adanya agen biologi alami yang membantu menurunkan kandungan minyak di sana,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Meski tercemar rembesan minyak dari sistem petroleum dangkal, aktivitas masyarakat di sekitar sungai tetap berlangsung. 

Warga masih memanfaatkan air untuk irigasi dan menangkap ikan untuk konsumsi, dengan kondisi tanaman yang dilaporkan tetap normal.

Tim riset gabungan yang terdiri dari 11 dosen dan mahasiswa menduga adanya mekanisme adaptasi fisiologis pada ikan yang hidup di lingkungan tersebut. 

Jika terbukti, temuan ini berpotensi membuka peluang baru dalam bidang bioteknologi dan konservasi, terutama terkait kemungkinan mutasi genetik atau adaptasi unik organisme.

Penelitian ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan Geopark Bojonegoro melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). 

Kajian ilmiah ini diharapkan dapat menjawab catatan dari asesor UNESCO yang sebelumnya menyoroti minimnya integrasi data geologi dan keanekaragaman hayati.

“Data ini akan menjadi fondasi bagi edutourism. Wisatawan tidak hanya datang melihat minyak, tapi belajar tentang ketahanan ekosistem. Jika ditemukan spesies unik, kita akan lanjutkan hingga uji sekuensing DNA di level molekuler,” jelas Laily.

Lebih lanjut, hasil awal penelitian ini diharapkan dapat mendorong Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) untuk menjadikan Kedunglantung sebagai kawasan prioritas riset.

Laily menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menjaga kualitas lingkungan, termasuk pemantauan air secara berkala serta penanganan sampah plastik di kawasan geosite.

Pengalaman Bojonegoro dalam menjaga anggrek larat hijau atau Dendrobium capra di Gondang sebagai habitat alami terakhir di dunia, menjadi bukti bahwa wilayah ini menyimpan kekayaan hayati langka. 

"Kami berharap kepada multi-stakeholder agar memberikan dukungan pendanaan riset yang berkelanjutan di berbagai situs. Mengingat, pengakuan UGGp bukan sekadar tentang keindahan visual. Melainkan tentang sejauh mana sebuah wilayah mampu mendokumentasikan kekayaan ilmiahnya bagi dunia internasional,” tandasnya.

Editor: Dedi Mahdi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut