Dinkes Paparkan Strategi Penguatan Sanitasi Lingkungan Bojonegoro di Hadapan Mahasiswa Unigoro
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Upaya penguatan sistem sanitasi lingkungan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah praktisi yang digelar Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) di Laboratorium Fakultas Sains dan Teknik Unigoro, Selasa (9/6/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Prodi Ilmu Lingkungan menghadirkan analis kesehatan kerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, Fatkur Rozi, S.KM., M.Kes., sebagai praktisi untuk berbagi pengalaman dan wawasan terkait kesehatan lingkungan serta implementasi program sanitasi di daerah.
Rozi menjelaskan bahwa kesehatan lingkungan memiliki peran penting dalam mencegah munculnya penyakit maupun gangguan kesehatan yang dipicu oleh faktor lingkungan. Menurutnya, lingkungan menjadi faktor terbesar yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
“Selalu ada kaitannya sanitasi dan kesejahteraan. Sanitasi yang baik dapat menurunkan angka kematian dan masalah kesehatan lainnya. Tentu produktivitas akan meningkat jika tubuh kita sehat. Sehingga berdampak pada kesuksesan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan,” tuturnya.
Ia memaparkan, ruang lingkup kesehatan lingkungan mencakup berbagai aspek, mulai dari penyehatan air dan udara, pengamanan limbah, higiene makanan, pengendalian vektor penyakit, hingga pengamanan kebisingan dan radiasi.
Dalam kesempatan tersebut, Rozi juga menyoroti pentingnya penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya pilar Open Defecation Free (ODF) atau stop buang air besar sembarangan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, kata dia, terus berupaya menjaga komitmen dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari praktik tersebut.
Menurut Rozi, masih terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat terkait sanitasi, mulai dari kondisi geografis hingga faktor sosial ekonomi.
“Bisa jadi karena kondisi geografis. Karena Kabupaten Bojonegoro ini dilewati aliran sungai Bengawan Solo dan masih ada anak-anak sungai lainnya. Warga merasa lebih praktis BAB di sungai. Kemudian kemiskinan, kebiasaan, serta kondisi lingkungan absolut yang sering banjir dan kekeringan juga menjadi masalah utama terkait isu sanitasi,” ungkapnya.
Pria asal Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo itu menambahkan, Bojonegoro telah mencapai status 100 persen ODF sejak tahun 2021. Capaian tersebut didukung oleh alokasi anggaran pemerintah serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang sebagian diarahkan untuk mendukung sektor sanitasi.
Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga menerbitkan sejumlah regulasi yang menjadi landasan pengawasan pelaksanaan STBM di tingkat masyarakat.
“Kami juga melakukan monitoring dan evaluasi capaian program ODF di tingkat desa bagaimana,” papar Rozi.
Kuliah praktisi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa. Berbagai pertanyaan dan diskusi terkait tantangan kesehatan lingkungan di masyarakat turut mewarnai jalannya kegiatan akademik tersebut.
Editor : Dedi Mahdi