Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kuliah Sambil Kerja Bisa Lulus 2 Tahun? Ini Jalur RPL Tipe A Unigoro dan Syaratnya
Advertisement . Scroll to see content

Limbah Jerami Nangka Disulap Mahasiswa Unigoro Jadi Bioplastik Pintar untuk Cek Kesegaran Makanan

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 15:10 WIB
  • author Arik T.P
Limbah Jerami Nangka Disulap Mahasiswa Unigoro Jadi Bioplastik Pintar untuk Cek Kesegaran Makanan
Mahasiswa Kimia Unigoro saat melakukan penelitian di Lab Kampus. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Inovasi kemasan ramah lingkungan dikembangkan mahasiswa Program Studi Kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro). 

Melalui kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Chromafresh Bioplastic, mereka memanfaatkan limbah jerami nangka dan bunga telang untuk membuat bioplastik yang dapat mendeteksi kesegaran makanan.

Riset berjudul Pengembangan Kemasan Pintar Berbasis Bioplastik Jerami Nangka dengan Indikator Kolorimetrik Antosianin Bunga Telang untuk Deteksi Kelayakan Konsumsi Buah Potong tersebut mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) RI.

Ketua Kelompok Chromafresh Bioplastic, Regita Cahyaning D.C., mengatakan penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan smart bioplastic yang tidak hanya menjadi alternatif pengganti plastik konvensional, tetapi juga memiliki fungsi sebagai indikator kesegaran makanan.

“Riset ini untuk menjadi solusi dari permasalahan penggunaan plastik konvensional yang tidak ramah lingkungan. Sekaligus memanfaatkan jerami nangka yang selama ini hanya dianggap limbah pangan,” tuturnya, Jumat (2/10/26).

Dalam pengembangannya, riset dilakukan selama empat bulan. Proses diawali dengan memilih jerami nangka yang masih dalam kondisi baik. Bahan tersebut kemudian dicuci, dikeringkan, lalu diblender menggunakan aquadest.

Setelah itu, bahan diendapkan hingga menghasilkan pati. Pati jerami nangka kemudian dihaluskan dan diayak hingga memiliki tekstur menyerupai tepung.

“Nah tepungnya disintesis dengan beberapa bahan campuran seperti kitosan dan lain-lain. Kalau sudah tersintesi, dicampurkan dengan bunga telang untuk indikator kolorimetrinya,” jelas mahasiswa prodi Kimia Unigoro.

Bunga telang digunakan sebagai indikator kolorimetri karena dapat menghasilkan perubahan warna yang menjadi penanda kondisi makanan. Bioplastik yang dihasilkan memiliki warna biru ketika dalam kondisi awal.

Untuk menguji kemampuannya, tim menggunakan buah semangka potong yang dibiarkan pada suhu ruang selama enam jam. Bioplastik kemudian digunakan untuk menutup buah tersebut.

“Buahnya ditutup dengan bioplastik. Hasilnya setelah enam jam benar-benar ada perubahan warna,” ungkapnya.

Hasil pengujian menunjukkan bioplastik tetap berwarna biru ketika buah masih segar. Sementara itu, ketika kondisi buah tidak lagi segar, warna bioplastik berubah menjadi ungu.

Meski telah menunjukkan kemampuan mendeteksi kesegaran makanan, Regita mengatakan pengembangan Chromafresh Bioplastic masih membutuhkan penyempurnaan, terutama dari sisi ketebalan material.

“Yang perlu disempurnakan lagi adalah tingkat ketebalan plastiknya. Saat pencetakan ukuran lebarnya masih kurang dan ketebalannya masih di angka 0,46 mm. Sedangkan standar kemasan plastik ketebalannya 0.25 mm,” pungkasnya. 

Editor: Dedi Mahdi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut