Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kuliah Sambil Kerja Bisa Lulus 2 Tahun? Ini Jalur RPL Tipe A Unigoro dan Syaratnya
Advertisement . Scroll to see content

Bedah Buku di Unigoro, Ungkap Kehidupan Buruh Tembakau Bojonegoro pada Masa Kolonial

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:58 WIB
  • author Arik T.P
Bedah Buku di Unigoro, Ungkap Kehidupan Buruh Tembakau Bojonegoro pada Masa Kolonial
Kegiatan Bedah Buku di Perpustakaan Unigoro. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Sejarah industri tembakau di Bojonegoro tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan kejayaan komoditas, tetapi juga menyimpan cerita tentang kehidupan para buruh perkebunan. 

Persoalan upah, jam kerja, hingga keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan perkebunan menjadi bagian dari sejarah yang diungkap dalam buku "Buruh Perkebunan Tembakau Bojonegoro 1860 - 1939".

Kisah tersebut dibahas dalam kegiatan bedah buku yang digelar Perpustakaan Universitas Bojonegoro (Unigoro) berkolaborasi dengan Mastumapel, Jumat (30/10/2026). 

Puluhan mahasiswa mengikuti forum yang menjadi ruang diskusi untuk menelusuri dinamika industri tembakau sekaligus kehidupan pekerjanya pada masa lampau.

Penulis buku, Siti Mahmudah, menjelaskan, karya tersebut berangkat dari penelitian skripsinya ketika menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair). 

Di tengah banyaknya penelitian mengenai tembakau Bojonegoro, dia memilih menyoroti sisi kehidupan buruh perkebunan yang dinilai belum banyak diangkat.

“Jadi yang di-highlight adalah masalah di sekitar buruh perkebunan. Masalah perburuhan dari tahun ke tahun sama. Penindasan, upah tidak layak, jam kerja tidak sehat, dipengaruhi dinamika politik,” tuturnya.

Salah satu temuan yang diungkap Mahmudah adalah keterlibatan beberapa generasi dalam pekerjaan perkebunan tembakau. Dalam sejumlah keluarga, pekerjaan tersebut dilakukan secara turun-temurun, mulai dari kakek, nenek, ayah, ibu, hingga anak-anak mereka.

Bahkan, anak-anak juga dilibatkan dalam pekerjaan di perkebunan, meski dengan tugas berbeda dari pekerja dewasa.

“Bahkan, anak-anak juga dipekerjakan untuk mengambil ulat-ulat kecil yang ada di daun tembakau,” ungkapnya.

Selain membahas kehidupan buruh, diskusi juga mengulas posisi tembakau dalam perjalanan sejarah Bojonegoro. Founder Mastumapel.com, Nanang Fahrudin, menyebut komoditas yang dikenal dengan julukan Daun Emas itu pernah menjadi bagian dari identitas visual pemerintah daerah.

“Sebelum logo Pemkab Bojonegoro bergambar padi dan kapas adalah tembakau dan daun jati,” ujarnya.

Jejak kejayaan industri tembakau tersebut juga masih dapat ditemukan melalui sejumlah bangunan bersejarah. Salah satunya Padangan Heritage, rumah tua yang dahulu menjadi kediaman pengusaha tembakau terkemuka pada awal abad ke-20.

Nanang menjelaskan, bentuk bangunan yang tinggi dengan atap runcing bukan sekadar unsur arsitektur, tetapi memiliki fungsi sebagai penanda lokasi bagi para pelaku perdagangan tembakau pada masa itu.

“Jalur perdagangan di Bojonegoro saat itu adalah jalur Bengawan Solo. Padangan Heritage dengan ciri bangunan yang mencolok seperti itu akan mudah ditandai oleh petani-petani tembakau dari Madura, karena lokasinya dekat dengan bengawan,” terangnya.

Kegiatan bedah buku yang dipandu Novi Nur Ariyanti, SIP., MA., berlangsung interaktif. Para mahasiswa Unigoro memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih jauh sejarah perkebunan tembakau, terutama dinamika kehidupan buruh dan jejak industri tembakau dalam perkembangan Bojonegoro.

Melalui diskusi ini, sejarah tembakau tidak hanya dilihat dari sisi komoditas dan perdagangan, tetapi juga dari pengalaman para pekerja yang menjadi bagian penting dalam perjalanan industri tersebut.

Editor: Arika Hutama

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut