BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) akan menggelar ekspedisi pencarian anggrek larat hijau (Dendrobium capra), spesies anggrek langka endemik Bojonegoro. Dalam kegiatan ini, LPPM Unigoro membuka open recruitment volunteer bagi masyarakat yang ingin terlibat langsung dalam misi konservasi.
Ekspedisi tersebut dilakukan menyusul laporan matinya anggrek larat hijau setelah pohon jati di kawasan hutan yang menjadi habitat alaminya ditebang akibat aktivitas pembukaan lahan beberapa waktu lalu. Anggrek langka ini sebelumnya ditemukan oleh tim peneliti Unigoro di kawasan hutan jati wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro.
“Ekspedisi Anggrek Larat Hijau (D. capra) kembali membuka open recruitment volunteer. Ini bukan sekadar perjalanan ke hutan, tetapi kesempatan langka untuk terlibat langsung dalam eksplorasi, pendataan, dan pembelajaran tentang anggrek langka di kawasan hutan Bojonegoro,” demikian pengumuman yang disampaikan melalui kanal resmi kampus pada Selasa (10/2/2026).
Berdasarkan informasi yang disampaikan, pendaftaran relawan dibuka pada 9–13 Februari 2026, dengan jadwal pelaksanaan ekspedisi pada 14–15 Februari 2026. Titik kumpul ditetapkan di Universitas Bojonegoro, sementara lokasi eksplorasi meliputi kawasan hutan wilayah Gondang, yakni RPH Dodol, RPH Sukun, dan Terminal Betek. Panitia mengutamakan relawan yang memiliki lensa kamera atau binokuler, dengan kuota terbatas maksimal 12 orang per ekspedisi.
Sebelumnya, kabar mengenai matinya anggrek larat hijau disampaikan oleh Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro sekaligus Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc, setelah menerima laporan dari warga setempat.
“Universitas Bojonegoro menerima pesan melalui media sosial dari warga bahwa keberadaan anggrek hijau tersebut saat ini sudah ditebang,” ungkap Dr. Laily dengan nada prihatin, Jumat (26/12/2025) lalu.
Menurutnya, hilangnya Dendrobium capra menjadi pukulan berat bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Bojonegoro. Anggrek larat hijau merupakan spesies langka yang habitat alaminya hanya ditemukan di Bojonegoro dan memiliki nilai ekologis penting, terutama karena berada di kawasan geosite hutan jati yang termasuk wilayah Geopark Bojonegoro.
“Statusnya secara global sudah masuk kategori kritis atau terancam punah. Seharusnya spesies ini mendapat perlindungan maksimal,” jelasnya.
Dr. Laily juga menunjukkan sejumlah foto berdasarkan laporan warga serta hasil pengecekan lapangan oleh tim Unigoro. Dari temuan tersebut diketahui bahwa pohon jati yang menjadi tempat tumbuh anggrek larat hijau telah ditebang pada 27 November 2025, tanpa adanya konfirmasi atau koordinasi dengan pihak Geopark maupun Universitas Bojonegoro.
“Kondisinya sudah tidak ada. Penebangan dilakukan tanpa pemberitahuan kepada kami sebagai lembaga yang selama ini fokus pada pelestarian spesies langka tersebut,” tambahnya.
Ia menilai peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, hingga pengelola kawasan hutan. Hilangnya anggrek larat hijau disebut mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap flora endemik Bojonegoro.
Anggrek larat hijau memiliki karakteristik unik. Bunganya berwarna hijau dengan semburat ungu di bagian tengah dan hanya mekar satu kali dalam setahun, yakni pada bulan Februari. Tanaman ini juga hanya dapat tumbuh menempel pada pohon jati berusia lebih dari 50 tahun, tepatnya di bagian tiga perempat batang pohon.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
