BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Ibadah puasa Ramadhan 2026 sebentar lagi, namun selama ini dipahami sebagai sarana peningkatan ketakwaan dan pengendalian diri. Namun di balik dimensi spiritualnya, puasa juga menyimpan manfaat kesehatan yang signifikan. Hal ini disampaikan Dokter Masludi, praktisi medis yang berdomisili di Indramayu, Jawa Barat.
Menurutnya, ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa pola makan dan minum yang berlebihan berpotensi memicu berbagai penyakit serius. “Makan dan minum secara berlebih dapat membahayakan lambung, merusak fungsi hati, memberatkan kerja jantung, menyebabkan pengerasan pembuluh darah, sesak dada, hipertensi, hingga diabetes,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Nahdlotul Ulama (NU).
Ia menegaskan, peringatan tentang larangan berlebih-lebihan sebenarnya telah termaktub dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-A’raf ayat 31. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa perut merupakan sumber penyakit. Pesan tersebut, menurut Masludi, selaras dengan temuan medis kontemporer.
Puasa dan Regulasi Metabolisme
Masludi menjelaskan, puasa Ramadhan berperan sebagai mekanisme alami untuk mengatur ulang metabolisme tubuh. Saat seseorang berpuasa, tubuh mengalami fase istirahat setelah proses pencernaan normal yang umumnya berlangsung selama 6–8 jam.
Dalam fase tersebut, terjadi proses degradasi lemak dan penurunan kadar glukosa darah. Kondisi ini membantu mengontrol tekanan darah, kadar gula, serta berpotensi memperbaiki gangguan seperti maag.
“Puasa adalah latihan disiplin biologis. Tubuh dilatih untuk mengatur kuantitas dan kualitas asupan makanan secara seimbang,” katanya.
Ia menambahkan, dengan pemahaman yang tepat dan niat yang ikhlas, puasa bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga bentuk terapi preventif terhadap berbagai penyakit metabolik dan gangguan sistem endokrin.
Disiplin Diri dan Tantangan Fisik
Meski manfaatnya besar, tantangan puasa tetap dirasakan, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menjalaninya. Rasa haus kerap menjadi keluhan utama.
“Biasanya muncul keluhan, ‘Hausnya tidak tahan.’ Namun ketika diniatkan dengan ikhlas, akhirnya bisa juga bertahan hingga bedug Maghrib,” ujarnya.
Menurutnya, momen berbuka puasa menjadi pengalaman yang menghadirkan rasa syukur mendalam. Segelas teh manis di waktu berbuka terasa begitu nikmat setelah seharian menahan lapar dan haus.
Menahan diri di tengah terik matahari memang memerlukan perjuangan. Namun, ketika puasa dijalani dengan landasan iman dan kesadaran akan manfaatnya, rasa lapar dan haus menjadi bagian dari proses pembelajaran hidup yang lebih teratur dan disiplin.
Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Masludi menegaskan, puasa Ramadhan terbukti mampu meningkatkan derajat kesehatan apabila dijalankan dengan benar. Pengendalian pola makan, manajemen waktu konsumsi, serta kualitas asupan menjadi kunci utama.
“Puasa mengajarkan keseimbangan. Tidak berlebihan, teratur, dan terkontrol. Di situlah manfaat kesehatannya terasa,” tegasnya.
Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi momentum penyucian jiwa, tetapi juga kesempatan memperbaiki kualitas kesehatan secara menyeluruh.
Editor : Dedi Mahdi
Artikel Terkait
