Peternak Ayam Petelur di Bojonegoro Diprediksi Melonjak, Praktisi Ingatkan Soal Stabilitas Harga

Arik T.P
Dosen Fakultas Pertanian Unigoro, Danang Ananda Yudha, dan peternak ayam petelur mandiri di Bojonegoro. Foto: iNews Bjn

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Jumlah peternak ayam petelur diperkirakan akan mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun ini. 

Fenomena tersebut seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap usaha peternakan mandiri, termasuk di Kabupaten Bojonegoro yang mengandalkan program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri).

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro), Danang Ananda Yudha, S.Pt., MP., menyebut tren ini tidak hanya terjadi di Bojonegoro, tetapi juga merata di berbagai daerah, meskipun sebagian besar bersifat mandiri.

“Tren beternak ayam petelur ini sudah merata di berbagai daerah. Tapi sifatnya mandiri, tidak ada program seperti Gayatri. Peternaknya didominasi kalangan Gen X peralihan ke Gen Y. Gen Z juga ada, tapi minim,” ungkapnya, Rabu (22/4/26).

Program Gayatri sendiri menyasar warga prasejahtera yang tercatat dalam data kemiskinan daerah, sebagai upaya pemberdayaan ekonomi berbasis peternakan.

Menurut Danang, tren ini diproyeksikan bertahan hingga lima tahun ke depan. Produktivitas ayam petelur yang bisa mencapai dua tahun menjadi salah satu faktor pendorong, dengan catatan perawatan dilakukan secara optimal, mulai dari kesehatan hingga kualitas pakan.

Selain itu, kampanye pemerintah terkait konsumsi dua butir telur per hari turut memperkuat permintaan pasar terhadap komoditas tersebut.

Namun demikian, meningkatnya jumlah peternak berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan di pasar. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan usaha jika tidak diimbangi dengan strategi yang tepat.

“Ya memang benar jika banyak peternak bisa bikin harga turun. Tetapi peternak yang efisien dan punya strategi pasar akan tetap bertahan. Dengan cara pakan diracik sendiri, tidak full pakan produksi pabrik," ungkapnya. 

Menurutnya, peternak bisa memetakan segmentasi pasar di mana telur yang menjadi kebutuhan pokok bisa langsung dijual ke toko roti, warung makan, bahkan pelaku UMKM. 

"Di satu sisi, program MBG (makan bergizi gratis) tentunya menyerap banyak telur di berbagai wilayah sebagai sumber protein yang mudah didapat,” papar praktisi peternakan ini.

Ia menekankan pentingnya kemitraan sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya produksi. Dengan jaringan pasar yang jelas, peternak dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Sementara itu, ayam petelur yang telah melewati masa produktif masih memiliki nilai ekonomi melalui penjualan sebagai ayam afkir. Peternak kemudian dapat menggantinya dengan generasi baru, baik jenis DOC maupun pullet, guna menjaga keberlangsungan produksi.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network