BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengambil langkah antisipatif menghadapi ancaman fenomena El Nino dan tren penurunan luas baku sawah dengan berpartisipasi dalam Gerakan Percepatan Tanam Serempak se-Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 23 April 2026 ini menggabungkan inovasi teknologi pertanian dengan pendekatan spiritual guna memperkuat ketahanan pangan daerah.
Aksi tanam padi dipusatkan di lahan persawahan Desa Kapas, Kecamatan Kapas, dengan melibatkan Kelompok Tani Bakti Makmur bersama jajaran Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, serta unsur TNI dan Polri.
Keterlibatan lintas sektor ini menjadi bagian dari komitmen 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dalam mengejar target luas tanam padi nasional sebesar 2,8 juta hektare pada 2026.
Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian RI, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa upaya mencapai swasembada pangan kini tidak lagi bertumpu pada perluasan lahan semata, melainkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas. Hal ini menjadi penting di tengah penurunan luas baku sawah di Jawa Timur yang tercatat mencapai 1.068.000 hektare.
Menjawab tantangan tersebut, sejumlah strategi mulai diterapkan di wilayah Jawa Timur. Di antaranya penguatan koordinasi dengan Brigada Alsintan dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penyediaan pompa air menghadapi puncak kekeringan pada Juli–Agustus 2026.
Selain itu, pemerintah juga mendorong program Electricity for Farming atau listrik masuk sawah, pemanfaatan sumur dalam untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar solar, serta penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).
Upaya pengendalian hama pun diarahkan secara alami dengan memanfaatkan musuh alami seperti burung hantu untuk menekan populasi tikus di lahan pertanian.
Menariknya, gerakan tanam serempak ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis. Pendekatan spiritual juga dihadirkan melalui konsep “Sawah Bersolawat” dan program “Ngaji Tani”. Melalui pendekatan ini, petani diajak mengintegrasikan doa dan selawat dalam proses budidaya guna membangun ketenangan dan optimisme menghadapi tantangan alam.
"Gerakan percepatan tanam ini adalah bukti ketangguhan Jawa Timur sebagai produsen padi nomor satu di Indonesia selama empat tahun terakhir," ungkapnya.
Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan kelompok tani diharapkan menjadi fondasi kuat bagi Bojonegoro untuk mempertahankan perannya sebagai lumbung pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
