Pertanian Tumbuh 11,38 Persen, Topang Ekonomi Bojonegoro di Tengah Ketergantungan Migas
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Peringatan Hari Krida Pertanian yang jatuh setiap 21 Juni menjadi momentum bagi Kabupaten Bojonegoro untuk memperkuat sektor pertanian sebagai penopang utama ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi terbesar kedua di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro di bawah kepemimpinan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah terus menempatkan sektor pertanian sebagai program strategis daerah.
Kebijakan tersebut didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar masyarakat Bojonegoro menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Berbagai program telah dijalankan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong kesejahteraan petani. Program tersebut meliputi bantuan alat dan mesin pertanian, pemenuhan kebutuhan pupuk, pembangunan infrastruktur irigasi, penyediaan bibit unggul, jaminan harga hasil panen, hingga pengembangan hilirisasi produk pertanian.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Produksi padi Bojonegoro meningkat dari sekitar 710 ribu ton per tahun menjadi 864 ribu ton atau bertambah sekitar 154 ribu ton. Capaian itu mengantarkan Bojonegoro naik dari peringkat ketiga menjadi peringkat kedua sebagai daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan tren peningkatan produksi terus berlanjut pada 2025. Berdasarkan data DKPP, produksi padi Bojonegoro mencapai 886.443 ton atau meningkat 176.916 ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga produktivitas pertanian pada 2026, meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca normal dengan curah hujan yang tidak setinggi tahun sebelumnya.
”Kami telah melakukan langkah antisipasi dengan infrastruktur dan manajemen air, serta berupaya memanfaatkan benih Gamagora 7 atau biasa disebut varietas padi ‘Amphibi’ untuk lahan pertanian di Bojonegoro,” beber Zaenal.
Kontribusi sektor pertanian juga terlihat pada kinerja ekonomi daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan. Namun jika sektor pertambangan migas dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,34 persen.
Angka tersebut menjadi perbaikan signifikan dibandingkan kondisi pada 2023 ketika ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.
Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menilai pertumbuhan ekonomi daerah mampu bertahan di jalur positif karena ditopang oleh kinerja sektor pertanian yang tumbuh 11,38 persen.
"Sektor pertanian menjadi salah satu motor pertumbuhan utama dengan laju pertumbuhan mencapai 11,38 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi padi dan jagung yang signifikan," jelasnya.
Di sisi lain, Pemkab Bojonegoro juga memperkuat hilirisasi pertanian melalui pembentukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri. Badan usaha milik daerah yang baru berdiri tersebut diproyeksikan berperan dalam menjaga stabilitas harga gabah saat panen raya, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Direktur Utama Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, M Choirul Huda, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah program yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Asosiasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), BUMDes, UMKM, gabungan kelompok tani (Gapoktan), hingga Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Bojonegoro.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan para mitra tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026.
"Sekaligus kita akan melaunching merek beras andalan Bojonegoro, Rojo Nogo," tegasnya, Minggu (21/6/2026).
Choirul menjelaskan, dalam skema kerja sama tersebut, KDMP dan Gapoktan akan bertugas membeli gabah petani dengan harga di atas standar pemerintah sesuai kualitas yang telah ditentukan. Gabah tersebut selanjutnya diolah oleh Perpadi Bojonegoro sebelum dipasarkan.
"Dari hasil produksi itu, beras akan kami jual di pasar nasional dan untuk mencukupi kebutuhan pangan di tingkat daerah. Kami juga sudah menyiapkan merek beras, Rojo Nogo," terangnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri diharapkan mampu memberikan solusi terhadap persoalan harga saat panen raya sekaligus meningkatkan nilai tukar petani.
"Melalui kolaborasi ini kami optimis bisa membangun ekosistem pertanian yang lebih baik mulai hulu hingga hilir, dan meningkatkan kesejahteraan petani Bojonegoro," pungkasnya.
Editor : Arika Hutama