Perkuat Daya Saing Lulusan, Unigoro Benchmarking ke Ubaya, Siapkan Lembaga Sertifikasi Profesi
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Universitas Bojonegoro (Unigoro) menyiapkan pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai upaya memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya.
Untuk mematangkan rencana tersebut, Unigoro melakukan benchmarking ke LSP P1 Universitas Surabaya (Ubaya), Selasa (11/8/2026).
Kegiatan benchmarking dilakukan untuk mempelajari tata kelola, mekanisme pendirian, hingga pelaksanaan sertifikasi kompetensi di lingkungan perguruan tinggi.
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Kerja Sama Unigoro Erwanto, M.Si., mengatakan pendirian LSP diarahkan agar lulusan Unigoro memiliki bukti kompetensi yang melengkapi ijazah akademik.
Menurut dia, sertifikat kompetensi yang diterbitkan melalui LSP dan diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) diharapkan dapat menjadi salah satu modal lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Unigoro juga telah membentuk tim khusus yang bertanggung jawab menyiapkan pendirian LSP di lingkungan kampus.
“Kami ingin mempelajari best practice tentang pendirian dan pelaksanaan LSP P1 Ubaya. Terlebih Ubaya dan Unigoro adalah PTS (perguruan tinggi swasta) di bawah naungan yayasan. Nantinya LSP Unigoro bersifat sebagai unit pendukung,” tuturnya.
Delegasi Unigoro dalam kunjungan tersebut diterima Ketua LSP P1 Ubaya Drs. Norbertus Purnomolastu, Ak., MM., Kepala Bidang TUK LSP P1 Ubaya Drs. Suwadji, MM., serta Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan LSP P1 Ubaya Sugiyanto, SE.
Dalam pertemuan tersebut, Purnomo menjelaskan sejumlah hal yang perlu dipersiapkan dalam pendirian LSP di lingkungan perguruan tinggi. Salah satunya keterlibatan dosen dari setiap program studi.
Menurut dia, keterlibatan dosen dari masing-masing program studi penting untuk memastikan kompetensi yang disertifikasi tetap selaras dengan kurikulum pendidikan di kampus sekaligus kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
“Manajemen komitmen juga harus dijalankan. Sehingga diupayakan mahasiswa harus wajib mengikuti sertifikasi kompetensi di LSP kampus. Sertifikat tersebut dapat dimasukkan sebagai prasyarat untuk lulus,” tandasnya.
Masukan tersebut menjadi bagian dari bahan pembelajaran bagi Unigoro dalam menyiapkan tata kelola LSP. Keberadaan lembaga tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjadi sarana sertifikasi, tetapi juga mendukung keterkaitan antara kompetensi lulusan, kurikulum perguruan tinggi, dan kebutuhan dunia kerja.
Melalui benchmarking tersebut, Unigoro berupaya memperoleh gambaran praktik pengelolaan LSP perguruan tinggi yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kampus.
Editor : Arika Hutama