Petani Bojonegoro Kembangkan Integrated Farming System, Satu Lahan Hasilkan Empat Komoditas
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Keterbatasan lahan tidak menghalangi Abdul Mukarrom, petani asal Dusun Kedungrejo, Desa Kedungdowo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, untuk berinovasi.
Di atas lahan seluas sekitar 1.400 meter persegi, pria yang akrab disapa Mbah Dul itu mengembangkan sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System (IFS) selama tujuh tahun terakhir.
Konsep tersebut memungkinkan berbagai komoditas dibudidayakan dalam satu hamparan. Setiap bagian lahan dimanfaatkan agar tidak menyisakan ruang yang tidak produktif.
“Semua kita manfaatkan. Jangan sampai ada ruang yang kosong dan tidak menghasilkan,” ujar Mbah Dul saat menjelaskan konsep pertanian yang dikembangkannya.
Sistem yang diterapkan Mbah Dul dibuat secara berlapis. Pada lapisan pertama, ia mengembangkan budidaya ikan nila melalui sistem mina padi. Di bagian atasnya terdapat tanaman padi sebagai komoditas pangan utama.
Lapisan berikutnya dimanfaatkan untuk budidaya melon. Sementara itu, bagian pematang ditanami jambu kristal yang turut memberikan tambahan hasil bagi petani.
Dengan pola tersebut, satu petak lahan dapat menghasilkan ikan nila, padi, melon, dan jambu kristal secara bersamaan.
Bagi Mbah Dul, konsep pertanian terpadu tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas lahan. Sistem itu juga menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menciptakan sumber pendapatan dari berbagai komoditas.
Menurut dia, pertanian produktif tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Kunci utamanya terletak pada cara mengelola lahan dan mengintegrasikan berbagai kegiatan produksi.
Inovasi Mbah Dul belum berhenti pada empat lapisan yang saat ini telah diwujudkan. Ia memiliki gagasan untuk mengembangkan sistem pertanian terpadu hingga tujuh lapisan atau "tujuh lantai".
Tiga lapisan tambahan telah disiapkan dalam rancangannya.
Lapisan kelima akan digunakan untuk peternakan. Selanjutnya, lantai keenam dirancang sebagai pusat pelatihan bagi petani. Sementara lantai ketujuh akan difungsikan sebagai pusat pemasaran hasil pertanian.
Seluruh konsep tersebut dirancang dalam satu kawasan sehingga setiap kegiatan dapat saling mendukung dan memberikan nilai tambah.
Gagasan tersebut mendapat perhatian dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro Zaenal Fanani. Ia meninjau langsung lahan pertanian milik Mbah Dul pada Rabu (6/8/2026).
Zaenal menilai inovasi tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan luas lahan bukan menjadi alasan untuk menghasilkan pertanian yang produktif.
"Mbah Dul membuktikan bahwa lahan yang tidak terlalu luas pun dapat memberikan hasil yang optimal apabila dikelola dengan inovatif. Sistem pertanian terpadu mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, diversifikasi hasil panen, serta memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani," ujar Zaenal Fanani.
Zaenal berharap konsep yang dikembangkan Mbah Dul dapat menjadi contoh bagi petani lain di Bojonegoro. Menurut dia, inovasi tersebut berpotensi diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan kondisi lahan dan komoditas yang dikembangkan.
Ia menilai masa depan sektor pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh luas lahan. Kreativitas, kemauan untuk belajar, serta keberanian mencoba metode baru juga menjadi faktor penting.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, kata dia, akan terus mendorong munculnya inovasi dari petani agar sektor pertanian semakin produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kisah Mbah Dul menunjukkan bahwa lahan terbatas tetap dapat menghasilkan beragam komoditas apabila dikelola secara terintegrasi. Dari lahan seluas 1.400 meter persegi, ia kini tidak hanya memanen hasil pertanian, tetapi juga membangun gagasan tentang masa depan pertanian yang lebih efisien.
Editor : Dedi Mahdi