Kebakaran Hutan Ancam Keberadaan Anggrek Langka Dendrobium Capra di Bojonegoro

Arik T.P
Kebakaran hutan jati di Bojonegoro, dan potret anggrek larat hijau. (Foto: Istimewa)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Kebakaran hutan yang kerap terjadi saat musim kemarau mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Salah satu yang terancam adalah anggrek langka endemik hutan jati Bojonegoro, "Dendrobium capra". Anggrek larat hjau yang berstatus "Endangered" atau terancam punah itu diketahui masih bertahan di kawasan hutan jati Gondang.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro, Dr Laily Agustina R, mengungkapkan kondisi tersebut setelah menyaksikan langsung kebakaran hutan di Petak 153M RPH Dodol, BKPH Gondang, KPH Bojonegoro.

"Saya menyaksikan sendiri bagaimana kobaran api menjalar di Petak 153M RPH Dodol, BKPH Gondang, KPH Bojonegoro," ucap Laily dikutip dari laman Instagram pribadinya, minggu (26/7).

Menurut Laily, kebakaran hutan tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Sebab, kawasan yang terbakar dapat menjadi habitat berbagai spesies yang keberadaannya tidak tergantikan.

"Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya kebakaran hutan biasa," tulisnya.

"Namun bagi kami yang mengenal kawasan ini, setiap jengkal hutan yang terbakar menyimpan kehidupan yang tidak tergantikan," lanjutnya.

Laily menjelaskan, kawasan tersebut merupakan salah satu habitat Dendrobium capra, anggrek langka endemik Pulau Jawa yang berstatus terancam punah.

"Di sinilah Dendrobium capra, anggrek langka endemik Pulau Jawa yang berstatus Endangered (Terancam Punah), masih mampu bertahan hidup. Anggrek ini tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. la bergantung pada pohon jati tua yang telah tumbuh selama puluhan tahun," tambahnya.

Ia menyebut kobaran api dalam kebakaran tersebut nyaris membakar habitat anggrek langka itu.

Kebakaran hutan, kata Laily, tidak hanya menyebabkan pohon hangus. Peristiwa tersebut juga mengancam keanekaragaman hayati, sumber air, ilmu pengetahuan, serta warisan alam yang semestinya dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Laily juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kepulan asap atau kobaran api yang terlihat di kawasan hutan.

Menurut dia, masyarakat dapat segera melaporkan kebakaran kepada Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, atau aparat setempat dengan menyampaikan lokasi secara jelas.

Masyarakat juga diimbau tidak mengambil risiko memadamkan api yang telah membesar seorang diri.

"Jangan diabaikan," pesannya.

Ia menambahkan, api dapat membakar berbagai hal, mulai dari pohon hingga habitat satwa dan spesies langka yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bertahan hidup.

"Karena ketika hutan terbakar, sesungguhnya bukan hanya alam yang kehilangan. Kita semua kehilangan," tulis Laily.

Kebakaran Meningkat Saat Musim Kemarau

Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro mencatat, terdapat 101 peristiwa kebakaran selama Januari hingga Juni 2026.

Jumlah kejadian meningkat pada Juni 2026 dengan 29 peristiwa kebakaran. Peningkatan tersebut terjadi seiring dengan masuknya musim kemarau.

Kebakaran hutan dan lahan kerap dipicu aktivitas pembakaran, seperti pembakaran sampah maupun sisa daun kering yang rontok. Api kemudian dapat membesar dan merambat ke area lain, terutama saat kondisi lingkungan kering dan angin bertiup.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network