get app
inews
Aa Text
Read Next : Libatkan Bappeda hingga BRIDA, 696 Mahasiswa Unigoro Ikuti Ujian Laporan KKN TK 2026

ICMI Bojonegoro Siapkan Transformasi Organisasi, Fokus Kajian Kebijakan dan Kaderisasi Cendekiawan

Selasa, 23 Juni 2026 | 09:49 WIB
header img
Forum Silaturahim Calon Pengurus ICMI Orda Bojonegoro Masa Bakti 2026–2031. (Foto: iNews Bjn)

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Bojonegoro menegaskan arah baru organisasi untuk masa bakti 2026–2031. Tidak sekadar menjadi wadah berhimpunnya akademisi dan tokoh masyarakat.

ICMI ingin mengambil peran sebagai mitra intelektual daerah yang aktif menyusun kajian kebijakan publik berbasis riset serta menjembatani kepentingan masyarakat dengan pemerintah.

Komitmen tersebut mengemuka dalam forum Silaturahim Calon Pengurus ICMI Orda Bojonegoro Masa Bakti 2026–2031 yang digelar di Ruang Adu Ide Universitas Bojonegoro (Unigoro), Senin (22/6/2026). Kegiatan ini dihadiri jajaran Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan calon pengurus Majelis Pengurus Daerah (MPD) ICMI Bojonegoro.

Ketua terpilih ICMI Orda Bojonegoro, Dr. Arief Januwarso, S.Sos., M.Si, menilai masih terdapat ruang strategis yang belum banyak diisi organisasi kemasyarakatan Islam, yakni penyusunan analisis kebijakan dari perspektif cendekiawan muslim.

“NU besar dimobilisasi massa. Muhammadiyah kuat di pendidikan dan kesehatan. MUI mengurus fatwa. Ruang yang belum diisi adalah analisis kebijakan dari perspektif cendekiawan muslim. Itu posisi kita,” paparnya.

Dalam suasana diskusi yang berlangsung santai namun produktif, para peserta menyampaikan berbagai gagasan, kritik, dan usulan terkait arah organisasi lima tahun mendatang. Forum tersebut menjadi wadah penyamaan visi sekaligus perumusan langkah strategis ICMI dalam mendukung pembangunan daerah.

Arief menilai, selama ini ICMI lebih dikenal sebagai organisasi yang menaungi tokoh dan akademisi, namun belum mampu menempatkan diri sebagai pusat produksi kajian yang menjadi rujukan publik.

“ICMI dikenal sebagai nama, tetapi belum sebagai produsen kajian. Belum ada policy brief atau potition paper yang menjadi rujukan publik,” imbuhnya.

Karena itu, ia menegaskan keberhasilan kepengurusan mendatang tidak akan diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dampak nyata yang dihasilkan. Menurutnya, terdapat lima indikator utama yang menjadi tolok ukur organisasi, yakni iman dan takwa, fikir, karya, kerja, dan hidup.

“Kalau lima tahun ke depan kepengurusan kita tidak bisa menunjukkan dampak terukur di lima dimensi ini, maka kepengurusan kita gagal, apa pun aktivitas yang dilaporkan,” tukasnya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, ICMI Bojonegoro menyiapkan lima program prioritas yang saling terintegrasi, yakni ICMI Mengajar, Kajian Strategis Daerah, ICMI Sehat, Kaderisasi Cendekiawan Muda, dan Antologi Cendekiawan.

Program ICMI Mengajar yang telah berjalan akan diperluas ke sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Bojonegoro. Sementara itu, Kajian Strategis Daerah akan dikembangkan melalui podcast bulanan yang membahas isu-isu strategis, khususnya sektor pertanian dan ekonomi.

Di bidang kesehatan, program ICMI Sehat akan difokuskan pada penanganan stunting dengan target menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Adapun program kaderisasi akan melibatkan pesantren dan SMA melalui pelatihan penulisan esai serta analisis kebijakan untuk menyiapkan generasi cendekiawan muslim muda.

Selain itu, budaya literasi di lingkungan organisasi akan diperkuat melalui penerbitan buku antologi yang melibatkan anggota dari berbagai latar belakang keilmuan.

“Yang kita bangun adalah sistem yang bisa diestafetkan, bukan sekadar acara tahunan,” ujar Arief.

Dukungan terhadap arah baru organisasi juga disampaikan Ketua Dewan Pakar ICMI Orda Bojonegoro, Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM. Menurutnya, ICMI memiliki posisi strategis untuk menghadirkan kajian publik yang dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah daerah.

“ICMI memiliki posisi strategis dalam menghasilkan kajian publik yang menjadi jembatan antara masyarakat dan Pemkab Bojonegoro,” ucapnya.

Cantika Wahono, sapaan akrabnya, turut mengusulkan agar ICMI memiliki program unggulan tahunan yang mampu menjadi identitas organisasi sekaligus kontribusi konkret bagi pembangunan daerah.

“Ini bisa menjadi program prestisius ICMI, misalnya dalam bentuk forum atau kegiatan ilmiah yang menghasilkan rekomendasi untuk disampaikan kepada Pemkab Bojonegoro,” tuturnya.

Masukan serupa datang dari Sekretaris Dewan Pakar ICMI Orda Bojonegoro, Prof. Dr. Hj. Sri Minarti, M.Pd.I. Ia mendorong penyusunan buku antologi yang merekam kiprah dan kontribusi organisasi bagi masyarakat.

“ICMI semestinya memberikan dampak positif kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatannya,” usulnya.

Sementara itu, Wakil Ketua ICMI Orda Bojonegoro, H. Zainal Fanani, S.Pi., MP, mendukung penguatan program ICMI Mengajar dan podcast sebagai sarana penyebaran gagasan yang lebih luas.

“ICMI bisa menjadi pendorong lahirnya penelitian mahasiswa, khususnya di bidang pertanian,” kata pria yang juga menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro.

Melalui forum silaturahim tersebut, para calon pengurus mulai menyusun fondasi organisasi yang diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah.

ICMI Bojonegoro menargetkan tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pusat gagasan, kajian, dan rekomendasi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut